Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Gubernur BI Kasih Peringatan Soal Ekonomi Global 2026, Ini Fokus Besarnya

Gubernur BI sebut pertumbuhan ekonomi dunia 2026 akan melambat sebesar 3 persen, dan inflasi naik menjadi 4,3 persen.

Eks Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan saat membuka acara Talkshow Bank Indonesia Bersama Masyarakat (BIRAMA) 2025 di Jakarta, Senin (1/12/2025).
Eks Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan saat membuka acara Talkshow Bank Indonesia Bersama Masyarakat (BIRAMA) 2025 di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Sumber: Antara Foto/Sulthony Hasanuddin/bar)

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan, pertumbuhan ekonomi dunia 2026 akan melambat sebesar 3 persen, dan inflasi naik menjadi 4,3 persen. Kondisi ini disebabkan oleh tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah.

Perry mengatakan, gejolak global ini telah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian dunia. Pasalnya, penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga minyak melonjak tinggi. 

Perkembangan ini mengakibatkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan akan lebih rendah menjadi sebesar 3 persen dan tekanan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,3 persen,”

ujar Perry dalam konferensi pers Rabu, 20 Mei 2026.

Kebijakan Moneter Global Ketat

Perry menuturkan, karena kondisi ini respons kebijakan moneter global menjadi lebih ketat. Bahkan sejumlah bank sentral sudah mulai menaikkan kebijakan suku bunganya. 

Iklan

Suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate (FFR), diperkirakan tidak akan turun hingga akhir 2026 dan terdapat kemungkinan akan naik pada 2027 dengan inflasi AS yang masih tinggi,”

terangnya.

Perry menyebut, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun sudah naik ke 4,66 persen, dan tenor 2 tahun sebesar 4,11 persen per 19 Mei 2026. Diperkirakan, imbal hasil akan naik lebih tinggi didorong oleh defisit fiskal AS yang membesar. 

Gedung Bank Indonesia.
Gedung Bank Indonesia. (Sumber: Dok. BI)

Keluarnya Modal Asing

Di sisi pasar keuangan global, Perry mengatakan memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara emerging markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman khususnya obligasi AS. 

Perkembangan ini juga mendorong kuatnya Indeks dolar AS dan menimbulkan tekanan pelemahan baik terhadap mata uang negara maju maupun mata uang negara berkembang,”

imbuhnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.