Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Harga Emas Turun, Dolar AS dan Harga Minyak Jadi Biang Kerok

Harga emas spot turun 0,9 persen menjadi US$4.502,59 per ons, setelah sebelumnya turun 1 persen pada awal sesi.

Emas Batangan. (Sumber: Unsplash/Jingming Pan)
Emas Batangan. (Sumber: Unsplash/Jingming Pan)

Harga emas turun pada hari Jumat, dan menuju penurunan mingguan kedua berturut-turut. Kondisi ini disebabkan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak yang membuat kekhawatiran inflasi, dan meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga AS.

Dilansir dari CNBC, harga emas spot turun 0,9 persen menjadi US$4.502,59 per ons, setelah sebelumnya turun 1 persen pada awal sesi. Secara mingguan, harga emas turun 0,8 persen. Sedangkan, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni turun 0,9 persen persen menjadi US$4.502,70 per ons.

Pelaku pasar saat ini seperti kelinci yang terpaku di depan lampu mobil, fokus pada Selat Hormuz dan potensi gangguan rantai pasok secara luas, yang pada akhirnya memicu kekhawatiran inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga,”

ujar analis StoneX, Rhona O’Connell dikutip Sabtu, 23 Mei 2026.

Ragukan Pembicaraan Damai

Pengeboran minyak milik Zarubezhneft. (Sumber: Dok. Zarubezhneft)
Pengeboran minyak milik Zarubezhneft. (Sumber: Dok. Zarubezhneft)

Adapun harga minyak naik karena investor meragukan bahwa pembicaraan damai antara AS-Iran, akan menghasilkan terobosan berarti. Di sisi lain, dolar AS bertahan di dekat level tertinggi enam minggu, sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Iklan

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun juga memangkas pelemahan sebelumnya dan tetap berada di dekat level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Sehingga, menekan permintaan terhadap emas yang tidak menghasilkan imbal hasil.

Lonjakan biaya energi cenderung mendorong kenaikan inflasi, dan dapat memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada level yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini semakin melemahkan permintaan terhadap emas, meskipun logam mulia kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga

Gedung Federal Reserve. (Sumber: The Fed)
Gedung Federal Reserve. (Sumber: The Fed)

Menurut FedWatch dari CME Group, pelaku pasar memperkirakan ada peluang sebesar 58 persen bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin (bps) pada Desember mendatang.

Gubernur Fed Christopher Waller, yang sebelumnya mendukung penurunan suku bunga, mengatakan bank sentral sebaiknya menghapus bias pelonggaran kebijakan dan membuka peluang untuk menaikkan suku bunga.

Di samping itu, sentimen konsumen AS telah mencapai rekor terendah pada Mei. Hal ini karena lonjakan harga bensin yang memicu kekhawatiran atas memburuknya daya beli

Adapun harga perak spot turun 1,9 persen menjadi US$75,28 per ons, platinum turun 2,5 persen menjadi US$1.916,62, dan paladium turun 2,1 persen menjadi US$1.349,30.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.