Kebijakan mandatori biodiesel B50 yang mulai diterapkan pemerintah pada 1 Juli 2026 dinilai mampu memperkuat ketahanan energi nasional dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Namun, dari sisi fiskal, kebijakan tersebut masih menyisakan persoalan sebab harga biodiesel belum kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyaki mengatakan, B50 merupakan instrumen yang kuat untuk menjaga keamanan pasokan energi dalam negeri, tetapi belum memberikan manfaat yang sama terhadap kondisi fiskal negara.
B50 is powerful energy security instrument, but weak fiscal (B50 adalah instrumen keamanan energi yang kuat, tetapi dari sisi fiskal lemah)”
kata Yayan melalui Zoom Meeting, Selasa, 23 Juni 2026.
Gantikan Impor Solar Rp200 Triliun

Berdasarkan paparan Yayan, implementasi B50 berpotensi menggantikan impor solar senilai sekitar Rp200 triliun per tahun. Temuan tersebut sejalan dengan klaim pemerintah mengenai potensi penghematan devisa dari berkurangnya impor bahan bakar minyak.







