Harga minyak kembali naik pada perdagangan Rabu di Asia. Kenaikan ini menyusul kembali memanasnya ketegangan di Timur Tengah, setelah Iran melancarkan serangan terhadap pasukan AS menggunakan rudal balistik.
Minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman September naik 3,42 persen menjadi US$86,97 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni naik 3,58 persen menjadi US$82,09 per barel.
Pasukan Korps Pengawal Revolusi Islam meluncurkan sejumlah rudal balistik dari Iran dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berbasis di Timur Tengah,”
kata Komando Pusat AS di X dikutip dari CNBC pada Senin, 29 Juli 2026.
AS dan Arab Saudi Serang Irak Timur


Pasukan AS dan Arab Saudi juga menyerang sejumlah lokasi logistik dan persenjataan milik kelompok teroris di Irak bagian timur pada Selasa waktu setempat. Serangan tersebut merupakan balasan atas lebih dari 30 serangan drone dalam tiga hari terakhir yang dilakukan oleh kelompok teroris yang berafiliasi dengan Iran.
Di samping itu, U.K. Maritime Trade Operations Centre melaporkan adanya aktivitas mencurigakan di Laut Merah melalui unggahan di X.
Tanpa memberikan rincian lebih lanjut, lembaga tersebut menyebut nakhoda sebuah kapal tanker mendengar suara ledakan saat melintasi wilayah selatan Laut Merah. Peringatan itu diterbitkan pada Selasa, sementara insiden tersebut dilaporkan terjadi pada Senin.
Kekhawatiran Pasokan
Serangan Houthi yang menargetkan fasilitas minyak Saudi juga telah memicu kekhawatiran pasokan. Executive Industry Advisor di Xeneta Bjorn Vang Jensen mengatakan serangan Houthi terhadap infrastruktur produksi, penyimpanan, dan pelabuhan minyak berpotensi mengganggu pasokan di seluruh kawasan.
Lonjakan harga minyak diperparah oleh nada yang agak hawkish dari Ketua Kevin Warsh pada rapat FOMC pertamanya sebagai Ketua Fed, dan para pedagang masih terpecah mengenai keputusan bank sentral yang akan diumumkan pada Rabu ini,”
demikian laporan Kitco.























