PT Astra Agro Lestari Tbk memperkuat implementasi perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital, mekanisasi operasional, program konservasi lingkungan, serta pengembangan riset untuk meningkatkan produktivitas.
Direktur Operasional Area Kalimantan Tengah Astra Agro, Hubbal Khoir Sembiring mengatakan prinsip keberlanjutan telah menjadi bagian dari strategi operasional perusahaan. Dalam hal ini pengelolaan perkebunan dilakukan dengan menyeimbangkan pengembangan sumber daya manusia, produktivitas tanaman, dan perlindungan lingkungan.
Bagi Astra Agro, sustainability harus hadir dalam setiap proses operasional. Kami mengombinasikan people, plant, dan planet, yaitu bagaimana perusahaan mengembangkan manusianya, menjaga produktivitas tanaman, sekaligus memastikan lingkungan tetap terpelihara,”
ujar Hubbal dalam Press Tour Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) 2026 di Kalimantan Tengah, Jumat, 31 Juli 2026.
Digitalisasi Proses Panen


Adapun salah satu inovasi yang diterapkan perusahaan melalui digitalisasi pada proses panen. Sebab, setiap pemanen memiliki nomor identitas yang terhubung dengan aplikasi TIKA untuk mencatat hasil panen harian secara digital.
Perwakilan Management PT GSIP-AMR anak usaha Astra Agro Lestari Denis Setyawan menjelaskan sistem tersebut memungkinkan perusahaan memantau produktivitas pekerja sekaligus menjadi dasar perhitungan insentif.
Nomor pemanen ini sebagai identitas. Nanti akan dihitung oleh Krani V/A menggunakan gadget yang namanya TIKA. Misalkan nomor pemanen 233, produksi hari ini 300 janjang. Kemudian nanti diakumulasi sampai satu bulan untuk menjadi dasar penghitungan gaji,”
terangnya.
Perusahaan sendiri menetapkan, target dasar panen sebanyak 290 janjang per pemanen per hari. Apabila hasil panen melampaui target, maka pekerja memperoleh tambahan premi sesuai jumlah tandan yang berhasil dipanen.
Selain itu, setiap pemanen juga dibekali perangkat tracking untuk memantau jalur panen secara real time. Sistem itu memungkinkan mandor memastikan seluruh areal telah dipanen sekaligus memantau kepatuhan pekerja terhadap prosedur operasional, termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD), kualitas buah yang dipanen, serta potensi kehilangan hasil (losses).
Setelah dipanen, tandan buah segar dibawa ke Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) untuk melalui proses pemeriksaan kualitas. Petugas melakukan grading guna mengidentifikasi buah mentah, buah busuk, maupun tangkai panjang sebelum seluruh data dimasukkan ke aplikasi TIKA yang menghasilkan dokumen Notice of Crop (NOC).
Data tersebut kemudian dikonversi menjadi Kartu Antar Buah (KAB) yang digunakan sebagai dasar pencatatan saat buah diterima di pabrik.
Pakai Teknologi
Di samping itu, Astra Agro juga menerapkan mekanisasi melalui penggunaan net system dan crane dalam proses pengangkutan tandan buah segar dari TPH menuju truk pengangkut.
Denis mengatakan, mekanisasi tersebut mampu meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja dibandingkan metode bongkar muat secara manual.
Dengan adanya digitalisasi dan mekanisasi tentunya akan menyebabkan efisiensi. Sebelumnya satu unit membutuhkan tiga sampai empat orang, sedangkan dengan net system cukup satu helper dan satu driver yang sekaligus menjadi operator crane,”
tuturnya.
Melalui digitalisasi, juga dinilai mempercepat proses pelaporan produksi. Sebab, jika sebelumnya laporan dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk direkap, kini data dapat diolah sehari setelah diinput.
Lebih lanjut, perusahaan juga menjalankan sejumlah program yang diklaim mendukung pengelolaan lingkungan. Salah satunya melalui penyediaan kawasan konservasi di setiap unit usaha untuk menjaga keanekaragaman hayati, termasuk pelestarian tanaman endemik Kalimantan.























