Siapa yang menyangka bahwa lapangan minyak dan gas (migas) tua atau mature kini justru mampu menghasilkan produksi yang signifikan buat menjaga ketahanan energi nasional?
Di tengah tantangan penurunan alamiah produksi migas nasional yang selama bertahun-tahun menjadi pekerjaan rumah besar bagi sektor energi Indonesia, lapangan migas tua di Kalimantan justru menghadirkan cerita berbeda dan patut dibanggakan.
Di Pulau Borneo itu selama puluhan tahun telah dikenal sebagai salah satu pusat industri migas nasional, beberapa lapangan tua justru menunjukkan daya hidup yang luar biasa berkat sentuhan teknologi, inovasi, dan strategi pengelolaan yang kekinian.
Kisah dan pengalaman sukses itu datang dari perusahaan migas nasional yaitu PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengelola aset hulu migas di Regional 3 Kalimantan.
Dari tangan-tangan Perwira dan Pertiwi terbaik milik PHI, upaya itu menghasilkan catatan kinerja produksi yang melampaui target perusahaan maupun target nasional pada sepanjang kuartal I tahun 2026.
Di mana hingga akhir Maret 2026, PHI bersama anak perusahaan dan afiliasinya berhasil memproduksi 60,44 ribu barel minyak per hari (MBOPD) dan 619 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
Tentunya, angka kinerja produksi migas tersebut setara dengan sekitar 120 persen dari target produksi minyak dan 105 persen dari target produksi gas yang ditetapkan pada tahun ini oleh perusahaan.
Dengan demikian, hasil yang dicapai menjadi sinyal penting bahwa upaya pemerintah menuju swasembada energi bukan sekadar wacana. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi harga energi, dan meningkatnya kebutuhan energi domestik, keberhasilan menjaga bahkan meningkatkan produksi dari lapangan-lapangan tua menjadi aset strategis bagi bangsa.
Direktur Utama PHI Sunaryanto menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung target produksi nasional dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Di PHI, kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi demi keberlanjutan produksi migas perusahaan yang penting dalam mendukung target produksi nasional dan ketahanan energi Indonesia,”
ujar Sunaryanto dikutip dari keterangannya, Senin, 3 Agustus 2026.
Tabel Capaian Produksi Migas PT Pertamina Hulu Indonesia (2021–2025)
| Tahun | Produksi Minyak (MBOPD / Barel per Hari) | Produksi Gas (MMSCFD / Juta Kaki Kubik per Hari) | Keterangan & Catatan Kinerja |
| 2021 | 46,50 MBOPD | 625,00 MMSCFD | Melampaui target RKAP (103,4 persen untuk minyak dan 102,3 persen untuk gas). |
| 2022 | 57,80 MBOPD | 668,30 MMSCFD | Pertumbuhan kinerja pasca transformasi Subholding Upstream Pertamina. |
| 2023 | 62,17 MBOPD | 710,00 MMSCFD | Kenaikan produksi ditopang efisiensi operasional dan program pengeboran agresif. |
| 2024 | 44,27 MBOPD | 526,04 MMSCFD | Hasil optimalisasi portofolio dan pengelolaan lapangan tua (mature fields). |
| 2025 | 44,42 MBOPD | 536,72 MMSCFD | Pertama kali dalam 5 tahun berhasil menembus di atas target tahunan RKAP (Minyak 107,29 persen & Gas 101,34 persen). |
Sumber: PHI, diolah Owrite
Nafas Baru Lapangan Tua


Seperti diketahui, selama bertahun-tahun lapangan migas tua identik dengan produksi yang terus menurun. Namun dengan perkembangan teknologi kekinian yang semakin canggih telah mengubah cara pandang industri terhadap aset-aset yang sebelumnya dianggap memasuki masa senja.
Di Kalimantan, PHI kemudian membuktikan bahwa inovasi dan teknologi mampu memperpanjang usia produktif lapangan migas mature sekaligus meningkatkan tingkat perolehan cadangan (recovery rate).
Adapun, salah satu terobosan yang diterapkan adalah metode High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil yang dikelola PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), serta Lapangan Mutiara dan Pamaguan yang dikelola PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).
Teknologi ini diketahui dirancang untuk mengatasi tantangan minyak dengan kandungan parafin atau lilin tinggi yang berpotensi membeku saat mengalir melalui jaringan pipa produksi. Dengan penggunaan pelarut khusus, minyak dapat tetap mengalir sehingga produksi tetap berjalan optimal.
Tak hanya itu, PHM juga berhasil mengoptimalkan sumur-sumur emulsi di Lapangan Tunu. Sementara PHSS menerapkan teknologi Permanent Coiled Tubing Gas Lift (PCTGL) di sejumlah sumur di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara. Teknologi tersebut bekerja dengan menyuntikkan gas bertekanan ke dalam sumur untuk membantu mengangkat minyak ke permukaan secara lebih efisien.
Deretan Inovasi yang diadopsi ini menjadi bukti bahwa masa depan energi Indonesia tidak selalu harus dimulai dari penemuan lapangan baru. Bahlan, dalam banyak kasus, peningkatan produktivitas dari aset yang sudah ada justru mampu memberikan kontribusi besar dalam waktu lebih cepat dan biaya yang lebih efisien.
Reaktivasi Sumur Menjaga Produksi
Selain inovasi teknologi, PHI juga menjalankan berbagai program pemeliharaan, perbaikan, hingga reaktivasi sumur untuk mempertahankan tingkat produksi.
Seperti Program Handil Rejuvenation yang dijalankan di Lapangan Handil menjadi salah satu contoh nyata. Program ini diketahui telah berhasil meningkatkan produksi hingga lima persen dibandingkan kondisi sebelum revitalisasi dilakukan.
Kontribusi lainnya datang dari keberhasilan proyek Sisi Nubi AOI yang dikelola PHM. Beroperasinya platform kedua dan ketiga pada awal 2026 memberikan tambahan produksi gas yang signifikan.
Peningkatan produksi juga berasal dari kegiatan well service di Lapangan Tunu, workover sumur di Lapangan Santan yang dikelola PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), serta pengembangan di Lapangan Nilam dan Mutiara milik PHSS.
Sementara itu, PHKT turut berkontribusi melalui percepatan produksi di Lapangan Kerindingan, Lapangan Sapi, serta sejumlah sumur sisipan baru di lepas pantai Kalimantan Timur.
Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa menjaga ketahanan energi nasional membutuhkan kombinasi antara investasi, teknologi, disiplin operasional, dan keberanian mengambil langkah inovatif.
Keselamatan Kerja
Sementara itu, keberhasilan meningkatkan produksi migas juga tidak akan berarti tanpa aspek-aspek keselamatan kerja yang kuat. PHI mencatatkan 57,36 juta jam kerja selamat sepanjang kuartal pertama 2026 dengan nihil fatalitas (zero fatality) dan nihil kehilangan waktu kerja akibat kecelakaan (zero Lost Time Incident).
Pencapaian ini menjadi indikator bahwa peningkatan produksi tidak dilakukan dengan mengorbankan aspek keselamatan pekerja maupun lingkungan. Pada industri hulu migas yang memiliki tingkat risiko tinggi, budaya keselamatan merupakan fondasi utama keberlanjutan operasi.
Keberhasilan menjaga keseimbangan antara produktivitas dan keselamatan menjadi modal penting dalam memastikan keberlanjutan pasokan energi nasional di masa depan.


Energi yang Memberi Manfaat bagi Masyarakat
Di luar pemanfaatan teknologi dan inovasi dalam mengejar target produksi migas, Perseroan juga berupaya memastikan manfaat industri energi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar wilayah operasi.
Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut terlihat melalui program Guru Tamu PHKT Goes to School yang digelar di SMK Negeri 2 Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Program yang melibatkan sekitar 100 siswa dari sembilan jurusan keahlian tersebut memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat industri hulu migas, memahami pentingnya budaya keselamatan kerja, serta mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.
Melalui kolaborasi dengan SKK Migas dan dunia pendidikan, para siswa mendapatkan wawasan mengenai rantai bisnis energi, perkembangan teknologi industri, hingga kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi bagian dari sektor energi masa depan.
Langkah tersebut mencerminkan bahwa ketahanan energi tidak hanya berbicara tentang minyak, gas, sumur, atau teknologi. Ketahanan energi juga berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia yang akan menjadi pelaku utama industri di masa mendatang.
Tak Tinggalkan Sampah


Tak sampai di situ, selain fokus mengejar produksi migas, PHI juga selalu menjaga lingkungan sekitar wilayah operasi, salah satunya yang dilakukan pleh PHM dengan memanfaatkan sampah organik berupa sisa makanan dari kafetaria di area operasi South Processing Unit (SPU) sebagai pakan ternak bebek milik warga Pulau Nubi, Desa Muara Pantuan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
General Manager PHM Setyo Sapto Edi mengatakan program ini sebagai bentuk penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat. Selain mendukung ekonomi sirkular, program ini juga mengurangi kebutuhan pengangkutan limbah dan meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah.
Pemanfaatan sampah organik tersebut turut mendorong perkembangan usaha peternakan bebek warga. Sejak Februari 2026, peternakan yang dikelola H. Taher bersama masyarakat mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur bebek per hari, bahkan terkadang lebih dari 100 butir.
Kami berharap kolaborasi PHM dan masyarakat dapat terus berkembang dan menginspirasi lahirnya berbagai inovasi lain yang akan berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Sejalan dengan semangat ESG, kami akan terus mendorong program-program yang menciptakan nilai bersama atau creating shared value bagi seluruh pemangku kepentingan,”
tuturnya.
Dari Kalimantan untuk Masa Depan Indonesia
Kisah PHI di Kalimantan menunjukkan bahwa energi bukan sekadar komoditas ekonomi. Energi merupakan fondasi pembangunan, penggerak industri, penopang pertumbuhan daerah, sekaligus faktor penting dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Dari sumur-sumur migas di Kalimantan hingga ruang kelas di Penajam Paser Utara, terdapat benang merah yang sama: upaya membangun masa depan Indonesia yang lebih mandiri.
Dan dari Kalimantan, pesan itu semakin jelas terdengar. Bahwa perjalanan menuju swasembada energi tidak hanya sedang berlangsung, tetapi juga sedang dibangun setiap hari melalui kerja keras, inovasi, dan kolaborasi untuk Indonesia.




























