Fenomena pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Meski tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional tidak menunjukkan lonjakan, kualitas penyerapan tenaga kerja berpendidikan tinggi dinilai masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tidar Arif Novianto, mengatakan persoalan pengangguran sarjana tidak bisa hanya dilihat dari naik atau turunnya angka pengangguran terbuka.
Menurut saya ini persoalan yang cukup serius, tetapi perlu hati-hati membaca datanya. Secara nasional TPT memang tidak sedang melonjak; Februari 2026 justru turun menjadi 4,68 persen dari 4,76 persen pada Februari 2025,”
kata Arif pada Owrite, Kamis, 13 Agustus 2026.
Kualitas Serapan Lulusan Sarjana


Menurutnya, persoalan yang lebih mengkhawatirkan adalah kualitas penyerapan tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi. Sebagian lulusan sarjana memang menganggur, tetapi sebagian lainnya terserap ke pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan kualifikasi sarjana.
Selain itu, terdapat lulusan perguruan tinggi yang masuk ke sektor informal atau bekerja dengan tingkat upah yang relatif rendah. Kondisi tersebut membuat persoalan ketenagakerjaan lulusan sarjana tidak sepenuhnya tercermin dalam angka TPT.
Jadi kalau hanya melihat angka pengangguran terbuka, kita bisa kehilangan sebagian persoalannya,”
ujarnya.
Arif juga menyebut fresh graduate menjadi salah satu kelompok yang rentan menghadapi pengangguran. Kerentanan juga lebih tinggi pada lulusan dari bidang studi dengan pasar kerja terbatas, mereka yang minim pengalaman kerja, serta lulusan yang tidak memiliki jaringan sosial atau akses terhadap pekerjaan formal yang layak.
Gelar Sarjana Bukan Jaminan


Dia menilai gelar sarjana tidak secara otomatis menjamin seseorang terserap di pasar kerja. Sebab, pertumbuhan jumlah penduduk berpendidikan tinggi belum selalu diikuti dengan pertumbuhan lapangan kerja yang membutuhkan tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan tinggi.
Karena gelar sarjana tidak otomatis menciptakan lapangan kerja. Ini poin pentingnya,”
beber Arif.
Menurut dia, pembahasan mengenai pengangguran sarjana selama ini kerap terlalu berfokus pada faktor individu.
Selama ini kita sering melihat masalahnya dari sisi individu: ‘lulusan kurang skill‘, ‘kurang kompeten’, dan sebagainya. Padahal ada persoalan struktural,”
ujarnya.
Arif menjelaskan struktur ekonomi Indonesia masih banyak bertumpu pada sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan rendah hingga menengah. Akibatnya, peningkatan jumlah penduduk yang mengenyam pendidikan tinggi belum sepenuhnya diimbangi dengan penciptaan pekerjaan berkualitas yang membutuhkan kompetensi tersebut.
Jadi problemnya bukan sekadar ‘sarjana tidak punya kompetensi’, tetapi juga ekonomi kita belum cukup menciptakan pekerjaan berkualitas yang sepadan dengan peningkatan pendidikan penduduk,”
tuturnya.






















