Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ekonomi global akan suram atau gloomy pada tahun ini. Ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen pada 2026.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan ekonomi dunia diperkirakan baru akan membaik pada tahun 2027. Hal itu juga sejalan dengan perkiraan sejumlah lembaga internasional.
Prospek ekonomi 2026 ini secara global itu memang agak gloomy (suram). Namun demikian, di 2027 diperkirakan akan ada perbaikan dan juga dari beberapa lembaga internasional termasuk kami juga melihat bahwa 2027 ini secara global akan lebih baik dibandingkan dengan posisi di 2026,”
kata Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin, 28 September 2026.
Dampak Harga Minyak

Destry menyebut, saat ini harga minyak dunia tengah bergejolak dengan kenaikan mencapai US$125,53 per barel pada 24 September. Harga minyak itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata Agustus 2026 yang berada di kisaran US$90,88 per barel.
Perlu kita pahami adalah harga minyak yang terus mengalami peningkatan dimana posisi di 24 September itu mencapai US$125,53 per barel dan ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata Agustus 2026 yang berada di kisaran US$90,88 per barel,”
jelasnya.
Selain itu, inflasi global diperkirakan akan naik hingga ke level 4,6 persen pada tahun ini. Lonjakan inflasi ini mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat.
Seperti kita ketahui belum lama ini the Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis point, dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan satu kali lagi di kuartal IV,”
tuturnya.
Proyeksi Ekonomi RI

Di samping itu, Destry memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan tumbuh di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Sedangkan pada 2027 ekonomi diproyeksikan tumbuh mencapai 6 persen.
Bank Indonesia kita perkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh di level 4,9 hingga 5,7 persen untuk tahun 2026, dan 2027 meningkat di level 5,2 persen hingga 6 persen,”
terangnya.
Destry mengatakan, pertumbuhan ekonomi lebih tinggi di tahun depan diharapkan akan berasal dari naiknya investasi swasta, termasuk investasi dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Di tahun 2027 dengan asumsi tentunya kita berharap kenaikan investasi swasta yang juga termasuk dalam hal ini adalah investasi dari Danantara,”
imbuhnya.






