Konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi menekan aktivitas ekspor-impor Indonesia melalui kenaikan biaya pengiriman sekaligus melemahnya permintaan dari negara mitra dagang. 

Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengatakan, jika ketidakpastian global berlangsung selama 6–12 bulan, tekanan juga berisiko meluas ke industri yang bergantung pada energi, bahan baku impor, dan biaya angkutan.

Ekspor-impor Indonesia akan terkena melalui dua arah. Pertama, biaya dan waktu pengiriman ke Eropa dan Timur Tengah meningkat. Kedua, permintaan dari negara-negara yang ekonominya ikut melemah akan turun,”

kata Ronny pada Owrite, Senin, 28 September 2026.

Perlu Jadi Perhatian Serius

Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/1/2026).
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/1/2026). (Sumber: Antara Foto/Dhemas Reviyanto/nz)

Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena nilai perdagangan luar negeri Indonesia cukup besar. 

Pada 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai sekitar US$282,5 miliar, sementara impor mencapai US$241,4 miliar.

Pada Januari–Mei 2026 saja, impor bahkan tumbuh 15,24 persen, sementara surplus perdagangan hanya sekitar US$4 miliar,”

ujarnya.

Ronny kemudian menilai kenaikan biaya impor energi, bahan baku, dan logistik yang terjadi bersamaan dengan perlambatan ekspor dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia.

Jadi jika biaya impor energi, bahan baku dan logistik meningkat bersamaan dengan perlambatan ekspor, tekanan terhadap neraca eksternal akan semakin besar,”

tuturnya.

Industri Padat Energi Paling Rentan

Seorang pekerja memasang sambungan pipa untuk proses pemindahan material crude palm oil (CPO) ke dalam kapal tanker di Dermaga B Curah Cair Pelabuhan PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) Branch Dumai, Riau, Rabu (13/5/2026).
Seorang pekerja memasang sambungan pipa untuk proses pemindahan material crude palm oil (CPO) ke dalam kapal tanker di Dermaga B Curah Cair Pelabuhan PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) Branch Dumai, Riau, Rabu (13/5/2026). (ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid /tom.)

Tekanan tidak hanya berpotensi muncul pada aktivitas perdagangan. Jika ketidakpastian global bertahan selama 6–12 bulan, industri dengan margin tipis dan ketergantungan tinggi terhadap energi, bahan baku impor, atau biaya freight akan menghadapi tekanan lebih besar.

Kalau ketidakpastian bertahan 6–12 bulan, industri yang paling rentan adalah yang marginnya tipis, sangat bergantung pada energi dan bahan baku impor, atau sangat sensitif terhadap biaya freight,”

ungkap Ronny.

Dia menyebut manufaktur padat energi, industri kimia, logam, transportasi dan logistik, penerbangan, industri pangan, serta sejumlah subsektor otomotif sebagai sektor yang berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi dan operasional.

Di sisi permintaan, tekanan dapat bergeser ke sektor-sektor yang konsumennya memiliki ruang lebih besar untuk menunda pengeluaran.

Sektor discretionary seperti pariwisata, restoran, perdagangan non-esensial dan barang tahan lama juga bisa terkena karena konsumen mulai menahan belanja,”

jelasnya.

Menurut Ronny, kondisi tersebut membuat risiko ekonomi tidak hanya berasal dari kenaikan harga akibat biaya produksi dan distribusi. Dunia usaha juga berpotensi menghadapi pelemahan permintaan secara bersamaan.

Jadi bahayanya bukan hanya cost-push inflation, tetapi kombinasi antara biaya naik dan permintaan melemah,”

imbuh dia.