Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan mulai mereda di akhir tahun 2026. Hal ini menyusul melemahnya rupiah pada beberapa waktu terakhir, yang bahkan menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pada kuartal III-2025 kebutuhan valas importir cukup tinggi. Sehingga, kondisi itu membuat rupiah mengalami tekanan.

Kuartal III itu memang secara historis menunjukkan pemenuhan kebutuhannya itu memang selalu peak, dan bacaan kita di akhir tahun biasanya lebih rendah daripada kuartal III,”

kata Erwin dalam Taklimat Media di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu, 30 September 2026.

Akhir Tahun Membaik

Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta.
Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.)

Erwin berharap dengan berbagai kebijakan stabilisasi yang sudah dilakukan, dapat membuat kondisi rupiah lebih baik hingga penghujung 2026.

Sehingga dengan upaya-upaya yang kita lakukan kita berharap setelah lewat kuartal III ini kita bisa better off sampai akhir tahun itu harapan kita,”

tuturnya.

Kendati demikian, Erwin mengatakan bahwa pergerakan nilai tukar tetap  dipengaruhi oleh dinamika global. Menurutnya, kondisi eksternal berada di luar kendali BI sehingga bank sentral akan terus merespons perkembangan yang terjadi melalui ruang kebijakan yang tersedia.

Tapi lagi-lagi saya sampaikan dinamika global itu gak ada yang bisa dikendalikan, sehingga sifat kita adalah kita merespons dengan ruang yang ada dan kebijakan yang kita miliki,”

tuturnya.

Harga Minyak Dunia

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS. (Sumber: Antara Foto/Indrianto Eko Suwarso/kye)
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS. (Sumber: Antara Foto/Indrianto Eko Suwarso/kye)

Sebelumnya, Erwin mengungkapkan melemahnya rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS didorong oleh kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia. 

Sedangkan dari dalam negeri, tekanan nilai tukar didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi.

Sejumlah langkah intervensi yang dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.