Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

BI Ungkap Nilai Tukar Rupiah Sepanjang 2026 Melemah 7,74 Persen

Pergerakan rupiah diklaim masih lebih baik bila dibandingkan dengan peers yakni Won Korea, Peso Filipina (PHP), dan Ringgit Malaysia (MYR)

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea (sumber: Owrite/Anisa Aulia)

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan rupiah mengalami pelemahan sebesar 7,74 persen sepanjang 2026 (year to date/ytd). Bahkan, rupiah pada 29 September 2026 mencapai level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pihaknya berkomitmen akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme stabilisasi pasar bekerja dengan baik.

Memang kita secara year to date di posisi tanggal 29 September kita terdepresiasi 7,74 persen dibandingkan posisi kita akhir tahun,”

kata Erwin dalam Taklimat Media di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu, 30 September 2026.

Sentimen Pengaruhi Nilai Tukar

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.)

Erwin menuturkan, pergerakan rupiah masih lebih baik bila dibandingkan dengan peers yakni Won Korea, Peso Filipina (PHP), dan Ringgit Malaysia (MYR). 

Iklan

Kita dibandingkan dengan beberapa negara Korea itu 15,6 persen, Filipina itu 8,7 persen. Malaysia itu 8,59 persen itu volatilitasnya,”

tuturnya.

Erwin menjelaskan, pergerakan nilai tukar suatu negara dipengaruhi oleh faktor global dan domestik. Faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang tersebut dapat berasal dari sentimen maupun kebutuhan pelaku ekonomi.

Jadi sebagai contoh, sentimen itu biasanya adalah hal-hal yang digerakkan oleh statement baik itu global ataupun domestik. Tapi statement ini kemudian menggerakkan pelaku ekonomi untuk mengambil aksi umumnya karena kekhawatiran,”

tuturnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.