Sekarang ini,”
tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan rencana pengalihan pembayaran gaji ini merupakan strategi untuk menambah likuiditas Kopdes Merah Putih. Sebab, Kopdes saat ini tengah menghadapi tekanan pembayaran cicilan dan bunga utang.
Ini strategi menambah likuiditas Kopdes karena sudah sangat genting membayar cicilan dan bunga utang ketika Kopdes serah terima ke pengurus desa,”
kata Bhima saat dihubungi Owrite, Rabu, 14 Oktober 2026.
Bhima mengatakan bisnis Kopdes memiliki risiko tinggi. Ia menduga dana gaji dan tunjangan ASN yang mengendap di koperasi akan dimanfaatkan untuk membantu kondisi keuangan Kopdes. Padahal, dana tersebut berkaitan dengan hak pegawai yang harus dibayarkan tepat waktu.
Model bisnis Kopdes jelas berisiko tinggi. Uang mengendap gaji dan tunjangan ASN dimaksudkan untuk membantu keuangan Kopdes. Tapi, ini cara yang berisiko tinggi,”
jelasnya.
Menurut Bhima, risiko bisa muncul saat ada ketidaksesuaian likuiditas yakni saat kewajiban pembayaran jatuh tempo lebih cepat dibandingkan ketersediaan dana tunai. Kondisi ini dikhawatirkan akan merugikan ASN.
Begitu terjadi masalah mismatch liquidity, maka uang gaji dan tunjangan ASN di Kopdes bisa macet. Yang rugi ASN tidak dibayar gajinya,”
tuturnya.