Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Rupiah Merah di Rp18.054 per Dolar AS, BI Ungkap Biang Kerok dan Siapkan Intervensi

Otoritas moneter akan terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait.

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5/2026).
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5/2026). (ANTARA FOTO/Hasrul Said/sgd)

Pada awal perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, rupiah melemah 0,65 persen atau 116 poin ke level Rp18.054 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengungkapkan pelemahan ini karena keberlanjutan arus keluar dana asing dari aset portofolio domestik, di tengah peningkatan sentimen risk-off global. 

“Di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan USD dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut,”

kata Erwin dalam keterangan resmi.

Diklaim Masih Sejalan

Erwin menyatakan pergerakan rupiah saat ini masih sejalan dengan mata uang kawasan. Bahkan cadangan devisa Indonesia juga dinilai masih terjaga baik.

Iklan

“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,28 persen secara quarter to date (qtd). Cadangan devisa juga tetap terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026,”

jelas dia.

Erwin menyatakan bahwa BI berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental, serta memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. 

“Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,”

ucap dia.

BI akan menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang. Dalam hal ini, otoritas moneter akan terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.