Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober. BI Rate diperkirakan naik sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen.
Josua mengatakan, kenaikan BI Rate dibutuhkan sebagai respons meningkatnya tekanan terhadap rupiah, dan memburuknya persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Kami memperkirakan BI berpeluang menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin dari 5,75 persen menjadi 6,00 persen, terutama untuk merespons meningkatnya tekanan terhadap rupiah dan memburuknya persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan Indonesia,”
kata Josua saat dihubungi Owrite Rabu, 21 Oktober 2026.
Josua menuturkan, berdasarkan penilaiannya peluang BI untuk menaikkan suku bunga berada pada kisaran 60 persen hingga 65 persen. Sedangkan kemungkinan mempertahankan suku bunga sekitar 30 persen hingga 35 persen, dengan peluang kenaikan agresif sebesar 50 basis poin relatif lebih kecil.
Iklan
Josua menjelaskan, proyeksi menaikkan BI Rate itu utamanya dipicu oleh pengumuman MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar saham Indonesia.
Perubahan ekspektasi tersebut terutama dipicu pengumuman MSCI mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi pasar tersendiri, yang telah memicu tekanan jual besar-besaran dan meningkatkan risiko keluarnya modal asing,”
jelasnya.
Arah BI Rate Kedepan
Gedung Federal Reserve. (Sumber: The Fed)
Josua mengatakan, arah kebijakan BI Rate ke depan akan sangat bergantung pada keberlanjutan tekanan rupiah, perkembangan aliran modal asing, stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Ia menyebut, saat ini pasar memperkirakan probabilitas the Fed menaikkan suku bunga sebesar 82,8 persen pada pertemuan Oktober. Sehingga, risiko kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat mulai berkurang.
Kondisi ini dapat memberikan sedikit ruang bagi BI, meskipun tingginya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak tetap menjadi tekanan,”
jelasnya.
BI Rate Diramal Ditahan
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.)
Sementara itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky memperkirakan Bank Indonesia akan menahan BI Rate tetap di level 5,75 persen. Hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026 sambil terus memprioritaskan stabilisasi rupiah melalui intervensi valuta asing dan langkah-langkah lainnya,”
jelasnya.
Riefky menilai, kombinasi antara ketidakpastian eksternal yang terus berlanjut dan tekanan pasar domestik yang semakin meningkat membuat Bank Indonesia membuat ruang gerak kebijakan menjadi terbatas.
Tekanan inflasi baru di AS berpotensi membuat suku bunga AS tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama sehingga mempertahankan tekanan terhadap rupiah dan arus modal. Sementara harga pangan dan bahan bakar yang tinggi mendekatkan inflasi domestik ke batas atas kisaran target Bank Indonesia,”
ujarnya.
Namun, Riefky menuturkan bahwa usulan reklasifikasi MSCI dan tekanan yang terus-menerus terhadap rupiah meningkatkan risiko arus keluar modal lebih lanjut. Sehingga, dapat memperkuat argumen untuk kenaikan suku bunga jika tekanan nilai tukar semakin intensif.
Langkah tersebut perlu dipertimbangkan dengan mempertimbangkan potensi dampak dari kondisi keuangan yang lebih ketat terhadap permintaan domestik dan pertumbuhan ekonomi,”