Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Cadangan Migas Tak Cukup! Bahlil Minta Anak Buah Percepat Izin dan Kontrak Proyek

Mempercepat proses perizinan serta kontrak, termasuk untuk proyek yang telah mengajukan plan of development (POD) atau rencana pengembangan lapangan.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (Sumber: Youtube Kementerian ESDM)
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (Sumber: Youtube Kementerian ESDM)

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta percepatan perizinan dan kontrak proyek minyak dan gas bumi (migas), terutama yang sudah memasuki tahap pengembangan hingga siap berproduksi.

Bahlil secara khusus meminta Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto dan Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman mempercepat proses perizinan serta kontrak, termasuk untuk proyek yang telah mengajukan plan of development (POD) atau rencana pengembangan lapangan.

Ini saya harapkan agar kita sebagai pemerintah, khususnya Kepala SKK dan Dirjen, itu bisa melakukan percepatan-percepatan untuk mendorong dari sisi perizinan maupun dari sisi kontrak. Ada yang baru diajukan POD, itu kalau bisa selesai,”

kata Bahlil di Floating Production Unit (FPU) Jangkrik, Selat Makassar, Kalimantan Timur, Kamis, 22 Oktober 2026.

Menurut Bahlil, besarnya cadangan migas tidak akan memberikan manfaat optimal jika tidak segera dikonversi menjadi produksi.

Iklan

Karena itu, percepatan dari tahap eksplorasi hingga produksi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan pasokan energi nasional.

Karena cadangan yang besar itu tidak akan mempunyai arti apa-apa kalau tidak mampu kita melakukan produksi. Kata kunci dari sebuah proses eksplorasi, konstruksi, itulah kapan produksinya,”

ia menambahkan.

Ketergantungan Impor

Bahlil kemudian menjelaskan, peningkatan produksi migas menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan pada impor.

Saat ini, produksi minyak nasional atau lifting masih berkisar 600 ribu barel minyak per hari (barrels of oil per day/bopd).

Sementara itu, kebutuhan minyak untuk konsumsi dalam negeri mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 1 juta barel per hari yang harus dipenuhi melalui impor.

Pemerintah pun menargetkan peningkatan produksi minyak hingga 900 ribu barel sampai 1 juta barel per hari pada 2029–2030.

Bahlil berharap tambahan produksi dari berbagai proyek migas dapat membantu mencapai sasaran tersebut.

Insya Allah doakan dengan penambahan yang ada, maka target dari Bapak Presiden untuk mencapai 900.000 barel sampai dengan 1 juta barel di tahun 2029–2030 dapat tercapai,”

imbuhnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Editor

    Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.