Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Rupiah Nyaris Rp18.200 per Dolar AS, BI Ungkap Sebabnya

Sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets.

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (Sumber: Antara Foto/Asprilla Dwi Adha/hma)
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (Sumber: Antara Foto/Asprilla Dwi Adha/hma)

Bank Indonesia (BI) buka suara terkait nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah hari ini ditutup melemah Rp18.184 atau 0,15 persen atau 28 poin.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengungkapkan pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah.

“Pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan,”

kata Erwin dalam keterangan resmi Rabu, 28 Oktober 2026.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Gedung Federal Reserve. (Sumber: The Fed)
Gedung Federal Reserve. (Sumber: The Fed)

Erwin menuturkan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang meningkat. Kemudian, sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets.

Iklan

“Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi,”

jelasnya.

Erwin menuturkan, dari sisi domestik kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Pelemahan juga didorong oleh kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan.

Sejalan Mata Uang Kawasan

Mata uang China, Yuan.
Mata uang China, Yuan. (Pixabay)

Erwin menuturkan, secara umum pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15 persen dan cadangan devisa tetap terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

Erwin menekankan, BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya.

Adapun langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Bank Indonesia terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya,”

imbuhnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.