Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hukum

Empat ‘Dosa’ Korupsi Eks Bupati Gowa, Kini Berujung Penahanan

Kortastipidkor Bareskrim Polri resmi menahan mantan Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang (HT) terkait kasus dugaan korupsi pemerasan, gratifikasi, dan pencucian uang.

Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang (tengah) berjalan menuju ruang pemeriksaan saat tiba di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang (tengah) berjalan menuju ruang pemeriksaan saat tiba di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (1/10/2026). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/agr)

Korps Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Bareskrim Polri resmi menahan mantan Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang (HT). Sitti Husniah ditahan terkait kasus dugaan korupsi pemerasan, gratifikasi, dan pencucian uang.

Sebelum dilakukan penahanan, penyidik memeriksa Sitti terlebih dahulu dalam kapasitasnya sebagai tersangka.

Setelah pemeriksaan, penyidik melakukan penahanan terhadap Saudari HT untuk kepentingan penyidikan,”

kata Kabag Ops Kortastipidkor Polri Kombes Yusuf Afandi dalam keterangannya, Senin, 26 Oktober 2026.

Yusuf menjelaskan upaya penahanan terhadap mantan Bupati Gowa itu dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan yang berlaku. Selama penahanan, Polri memastikan Sitti bakal mendapatkan seluruh haknya.

Iklan

Penyidik tetap menjamin pemenuhan hak-hak tersangka selama pemeriksaan dan penahanan termasuk hak memperoleh bantuan hukum dan pelayanan kesehatan sesuai ketentuan,”

ujarnya.

Tersangka Sitti sudah dijebloskan ke Rutan Polda Sulawesi Selatan selama 20 hari ke depan terhitung tanggal 26 Oktober 2026.

Selanjutnya, penyidik akan memeriksa kembali Sitti untuk melengkapi berkas perkara dengan berkoodinasi dengan tim jaksa sebelum perkara tersebut berlanjut ke persidangan. Dalam kasusnya, Sitti diduga terlibat ‘empat dosa’ sekaligus.

Pertama, Husniah diduga meminta sejumlah uang kepada pengembang perumahan PT Royal Persada dan PT Renjana dalam proses pengurusan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR).

Selain itu, Husniah diduga meminta jatah dalam pembangunan rumah dengan nilai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.

Dalam rangkaian ini, PT Royal Persada menyerahkan Rp100 juta dan PT Renjana menyerahkan Rp50 juta kepada HT melalui perantara yang merupakan sopir pribadinya,”

kata Dirtindak Kortastipidkor Brigjen Robertus Yohanes De Deo saat konferensi pers, Jumat, 25 September 2026.

Dugaan pemerasan berikutnya berkaitan dengan pembangunan gerai minimarket. Husniah disebut meminta Rp85 juta untuk setiap gerai yang dibangun.

Pihak Indomaret tiga kali menyerahkan dana dengan jumlah seluruhnya Rp850 juta,”

ujar De Deo.

Selain itu, Husniah juga diduga meminta Rp100 juta kepada pihak Indomaret setelah pembukaan gerai. Dana itu dikemas sebagai sumbangan untuk kegiatan Beautiful Malino.

Dana tersebut ditransfer kepada penyelenggara kegiatan atau event organizer,”

tuturnya.

Ulah berikutnya berkaitan dengan pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Husniah diduga menjanjikan persetujuan pembangunan gedung dengan syarat memperoleh satu unit rumah dengan potongan harga.

HT meminta satu unit rumah dengan potongan harga 70 persen dari harga awal Rp1,4 miliar sebagai syarat persetujuan bangunan gedung untuk site plan Sakura 2,”

jelas De Deo.

Husniah dijerat Pasal 12 huruf e dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 20 huruf c dan Pasal 126 KUHP Nasional, Pasal 607 Ayat (1) huruf a KUHP Nasional terkait dugaan tindak pidana pencucian uang.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Reporter OWRITE berfokus pada peliputan isu hukum, kriminal, dan nasional. Setelah resmi menyandang Sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.