Fenomena open BO di kalangan remaja kian menjadi sorotan seiring pesatnya penggunaan media sosial dan aplikasi pesan instan.
Istilah open BO yang merujuk pada praktik prostitusi berani ini tak lagi terbatas pada kalangan dewasa, tetapi mulai merambah usia belia.
Merujuk data terakhir dari Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2021, sebanyak 83 persen dari 234 anak menjadi korban prostitusi. Angka tersebut belum mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Apalagi anak-anak tersebut nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa.
Lantas kenapa anak-anak ini banyak yang melalukan open BO?. Berikut rangkumannya dari berbagai sumber.
- Faktor Ekonomi
Pakar kesehatan reproduksi, dr Mohammad Caesario mengatakan banyak remaja yang tergoda kebutuhan uang cepat. Gaya hidup tinggi tapi kantong tipis akibatnya jadi pelaku open BO.
Adanya budaya instan dan hedonisme. Pengen hp baru, outfit branded, main di mall, jalan pintasnya main deh open BO,”
ujar dr Rio seperti dikutip dari TikTok @dokterrio, Kamis 22 Januari 2026.
- Media sosial
Saat ini remaja sudah melek teknologi. Penggunaan media sosial tak luput dari aktivitas hariannya.
Bahayanya, aplikasi chatting hingga media sosial membuat akses seksual terselubung menjadi lebih muda diakses remaja.
- Kurangnya pendidikan seks dan moral
Masih banyak orang tua yang menganggap pendidikan seksual adalah hal yang tabu. Padahal mengajarkan anak tentang seksual sejak dini hal penting.
Contoh sederhananya adalah anak jadi tahu bahwa ada area tubuh yang tidak boleh disentuh oleh siapapun.
- Lingkungan dan pergaulan
Lingkungan pergaulan juga bisa membawa ke dunia gelap. Biasanya remaja mudah terpengaruh ketika melihat temannya terbiasa melakukan suatu kegiatan, dan akan ikut-ikutan.
Kalau teman circle sudah terbiasa, remaja gampang ikut-ikutan untuk melakukan praktik open BO,”
tambahnya.
- Minimnya kontrol dari orang tua
Banyak orang tua yang sibuk bekerja hingga tidak memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya. Anak-anak pun merasa merasa tidak diperhatikan, akhirnya cari validasi dengan mencari uang di luar melalui open BO.
- Kurangnya informasi tentang infeksi menular seksual
Banyak remaja yang tidak mengerti tentang penyakit kelamin, seperti HIV atau trauma psikis yang mungkin terjadi saat open BO. Hal itu yang membuat mereka melakukan praktik tersebut.
