FOMO atau Fear Of Missing Out, merupakan rasa takut merasa tertinggal karena tidak mengikuti aktivitas tertentu.
Fenomena ini menjadi salah satu isu yang semakin melekat pada kehidupan generasi muda, khususnya kalangan Gen Z.
Salah satu penyebabnya adalah penggunaan media sosial, sebab melalui media sosial mereka dengan mudah mendapatkan jutaan informasi.
Platform seperti Instagram, TikTok, hingga Twitter menjadi “ruang pamer” yang memperlihatkan kehidupan orang lain secara instan.
Hal ini membuat Gen Z lebih rentan membandingkan diri dengan orang lain, baik dari segi pencapaian, gaya hidup, hingga relasi sosial.
Ketika kita melihat postingan atau update insta story orang, kita sebagai penonton akan merasa cemas kemudian membandingkan kehidupan kita dengan orang lain yang terlihat lebih menyenangkan.
Dikutip dari keslan.kemkes.go.id, Perasaan FOMO ini bisa membawa dampak negatif, seperti rasa lelah, stres, depresi bahkan gangguan tidur. Adapun gangguan yang membawa pengaruh negatif meliputi:
- Meningkatkan Risiko Gangguan Psikologis
Ketika seseorang mulai khawatir dan membanding-bandingkan kehidupan sosial kita dengan orang lain, maka akan lebih mudah stres dan tidak menjadi diri sendiri atau terobsesi mempertahankan image yang baik di media sosial. Jika tidak dapat memanfaatkan penggunaan media sosial yang tepat seseorang tidak hanya akan merasa FOMO, tetapi juga mengganggu kesehatan mental, seperti rasa cemas dan gejala depresi. - Menurunkan Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri dapat menurun akibat membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Akibatnya, merasa rendah diri karena kehidupan orang lain lebih sempurna dan bahagia. - Mengganggu Produktifitas
Fokus pada gadget, seolah memiliki dunia sendiri. Sementara aktivitas lain dapat terbengkalai, seperti sulit berkonsentrasi saat bekerja, belajar, dan lainnya. - Menimbulkan Perasaan Negatif
FOMO juga dapat memicu rasa cemas, kesepian, dan kurang percaya diri. Kondisi ketiga ini tentu dapat berdampak buruk. Apalagi bagi kita yang sering menyaksikan postingan foto atau video orang lain yang memicu perasaan iri hati dan lainnya. - Mempengaruhi Kebiasaan Tidur
Ketika kita menjadi lebih eksis dengan acara atau aktivitas di luar sana untuk menghindari FOMO, maka dapat menggagalkan kebiasaan tidur dan makan. Tak menutup kemungkinan akan terjadi rasa lapar, lelah, sakit kepala bahkan kurang motivasi.
Selain itu, FOMO juga berdampak pada pengambilan keputusan yang kurang rasional. Gen Z cenderung membuat keputusan secara impulsif, seperti membeli barang yang sedang viral atau mengikuti kegiatan tertentu tanpa pertimbangan matang. Hal ini dipicu oleh dorongan untuk tidak merasa tertinggal, bukan berdasarkan kebutuhan pribadi.
Namun, tidak semua dampak FOMO bersifat negatif. Dalam beberapa kasus, FOMO dapat menjadi motivasi untuk mencoba hal baru, memperluas jaringan, dan meningkatkan produktivitas.
Selama dikelola dengan baik, rasa “takut tertinggal” ini bisa diarahkan menjadi dorongan positif untuk berkembang.
Untuk mengurangi dampak negatif FOMO, penting bagi Gen Z untuk meningkatkan kesadaran diri atau self-awareness.
Membatasi penggunaan media sosial, menetapkan prioritas pribadi, serta memahami bahwa apa yang ditampilkan di dunia digital tidak selalu mencerminkan realitas adalah langkah awal yang dapat dilakukan.
FOMO menjadi konsekuensi dari kehidupan digital yang serba cepat. Alih-alih terus mengejar apa yang dilakukan orang lain, Gen Z perlu belajar untuk fokus pada perjalanan hidup masing-masing. Karena tidak semua yang terlihat menarik di layar, benar-benar penting dalam kehidupan nyata.


