Tarot yang dahulu kerap dipandang sebagai media spiritual yang mistis, kini mengalami pergeseran makna dan menjelma menjadi sebuah tren di kalangan anak muda.
Melalui berbagai platform seperti TikTok dan Instagram, konten pembacaan tarot hadir dengan gaya yang lebih ringan, santai, dan mudah dipahami.
Di sisi lain, Generasi Z saat ini dihadapkan pada berbagai tekanan hidup, mulai dari tuntutan akademik, ketidakpastian karier, hingga ekspektasi sosial yang terus muncul di media digital.
Beragam tekanan tersebut tidak jarang memicu kecemasan dan kebingungan dalam menentukan arah hidup. Dalam kondisi ini, banyak dari mereka mulai mencari alternatif untuk memahami diri sekaligus menemukan pegangan.
Salah satu fenomena yang kini semakin populer adalah penggunaan tarot sebagai panduan hidup. Tidak lagi sekadar hiburan, tarot mulai dipandang sebagai alat untuk refleksi diri dan mencari jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi.
Dikutip dari mjstarot.com pada dasarnya, tarot adalah seperangkat 78 kartu yang mewakili pengalaman hidup kita sehari-hari dan kekuatan yang membentuk hidup kita.
Menurut dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) Dian Kartika Amelia Arbi, M.Psi., penggunaan tarot bisa berdampak positif atau negatif pada kehidupan seseorang, tergantung cara pemanfaatannya.
Jika dijadikan pendorong evaluasi diri yang mendorong perkembangan individu, itu tidak masalah. Namun, ada hal-hal yang justru menjadi peringatan ketika seseorang terlalu mengandalkan pemikiran dari tarot, sehingga menghambat kemampuan problem solving,”
ujar Dian dikutip dari unair.ac.id.
Ia mencontohkan risiko ketika seseorang pasrah karena merasa segala sesuatu sudah ditakdirkan, dari perspektif psikologi dikenal sebagai self-fulfilling prophecy.
Jadi, bukan ramalan atau prediksi itu yang benar-benar terjadi, melainkan karena kita sudah meyakininya sebelumnya, sehingga energi dan perilaku kita mengarah ke prediksi tersebut,”
tambahnya.
Dian memberikan tips menghadapi stres secara mandiri, yakni dengan cara belajar untuk mengelola stres dengan beberapa cara seperti journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan berolahraga secara rutin.
Namun, dalam menghadapi krisis emosional, ketika individu tidak mampu menangani sendiri, maka hal terbaik adalah mendatangi psikolog maupun psikiater untuk mendapatkan penanganan secara profesional,”
tambah Dian.


