Setiap kali bulan Suro atau jika di kalender hijriah disebut dengan bulan Muharram, suasana di sebagian wilayah Jawa akan terasa sedikit berbeda. Tidak ada pesta besar atau hingar-bingar seperti pergantian tahun pada umumnya. Justru yang muncul adalah ketenangan, bahkan cenderung hening.
Di Surakarta dan Yogyakarta, tradisi itu kembali hidup lewat rangkaian Grebeg Suro dan berbagai ritual malam 1 Suro yang digelar keraton.
Tahun ini, Keraton Surakarta Hadiningrat bersama Pura Mangkunegaran kembali menggelar rangkaian peringatan malam 1 Suro yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, bersamaan dengan Keraton Yogyakarta yang melaksanakan Lampah Budaya Mubeng Beteng.
Tradisi ini bukan sekadar agenda budaya tahunan. Karena di balik tradisi ini, ada cara pandang masyarakat Jawa tentang waktu, kehidupan, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
Kalau kebanyakan orang merayakan tahun baru dengan suasana yang meriah, malam 1 Suro justru sebaliknya. Di banyak tempat, suasana dibuat lebih tenang bahkan sunyi.
Sebagian masyarakat memilih tirakat, berdoa, berziarah ke makam leluhur, atau sekadar melakukan selamatan di rumah. Ada juga yang memilih tidak banyak beraktivitas dan menjadikan malam itu sebagai waktu untuk menahan diri dan merenung.
Dalam tradisi Jawa, 1 Suro dipandang sebagai momen untuk “ngresiki batin” atau membersihkan diri secara spiritual, bukan sekadar pergantian angka tahun.
Akar Sejarah Grebeg Suro
Melansir dari berbagai sumber, tradisi ini berakar dari kebijakan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam, yang pada tahun 1633 Masehi memperkenalkan Kalender Jawa-Islam.
Sistem ini menggabungkan Kalender Saka dan Kalender Hijriah untuk menyatukan masyarakat Jawa yang saat itu sangat beragam.
Dari situlah bulan Suro ditetapkan sebagai awal tahun dalam kalender Jawa. Nama “Suro” sendiri diyakini berasal dari kata “Asyura” dalam tradisi Islam yang merujuk pada hari ke-10 bulan Muharram.
Kalender ini kemudian lahir dan jadi simbol penyatuan budaya serta cara hidup masyarakat Jawa pada masa itu.
Di berbagai daerah, Grebeg Suro dan malam 1 Suro diisi dengan beragam laku budaya dan spiritual. Ada yang melakukan tirakat, ada yang mengikuti doa bersama, ada pula yang berziarah. Semua itu bermuara pada satu hal yaitu refleksi diri.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, malam ini dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menata kembali sikap dan perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Kirab Kebo Bule di Surakarta
Di Keraton Surakarta, malam 1 Suro identik dengan Kirab Satu Suro yang sudah berlangsung turun-temurun.
Tradisi ini mulai berkembang sejak masa Pakubuwono X (1893-1939) dan kemudian dilestarikan hingga sekarang.
Ciri paling khas dari kirab ini adalah kehadiran kerbau bule keturunan Kiai Slamet yang berjalan di barisan depan. Biasanya agenda ini disaksikan oleh ribuan warga yang memadati jalan di sekitar keraton.
Menariknya, seluruh peserta berjalan dalam suasana hening. Tidak ada percakapan, tidak ada sorak-sorai. Semuanya berjalan dalam diam sebagai bentuk laku prihatin.
Mubeng Beteng di Yogyakarta
Di Yogyakarta, tradisi yang hampir serupa dikenal dengan Lampah Budaya Mubeng Beteng atau Topo Bisu.
Ribuan peserta berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara. Tradisi ini sudah dilakukan sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono II.
Ritual ini diawali dengan tembang macapat, lalu dilanjutkan perjalanan kaki mengitari benteng sejauh beberapa kilometer dalam keheningan.
Bagi peserta, diam bukan berarti kosong. Justru di dalam diam itulah ruang untuk merenung dan mengingat kembali perjalanan hidup setahun terakhir.
Dan seiring waktu, Grebeg Suro tidak hanya menjadi tradisi keraton, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat Jawa secara lebih luas.
Di beberapa tempat, bulan Suro bahkan masih dianggap sebagai waktu yang “dijaga”, sehingga sebagian orang memilih menunda hajatan besar atau acara penting.
Meski begitu, di balik berbagai kepercayaan yang menyertainya, inti dari tradisi ini tetap sama yaitu mengajak manusia untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan kembali mengingat bahwa hidup tidak hanya soal bergerak maju, tetapi juga soal memahami apa yang sudah dilalui.
























