Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) sebagai momentum untuk mengingatkan bahwa setiap anak berhak tumbuh, berkembang, memperoleh perlindungan, serta didengar suaranya.
Di tengah perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan fisik, pendidikan, dan perlindungan anak, masih ada satu hal yang kerap luput, yakni validasi terhadap perasaan anak. Tidak sedikit orang dewasa yang menganggap emosi anak sebagai sesuatu yang sepele.
Karena itu, Hari Anak Nasional menjadi momen yang tepat untuk mengingatkan bahwa mencintai anak bukan hanya dengan memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga dengan menghargai setiap emosi yang mereka rasakan.
Pentingnya Validasi Perasaan Anak
Berdasarkan data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 yang dirilis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, hampir 10 persen anak di Indonesia menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa.
Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, sebanyak 4,4 persen mengalami gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi. Data tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers pada Maret 2026.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental anak perlu mendapat perhatian yang sama besarnya dengan kesehatan fisik. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua adalah memvalidasi perasaan anak.
Apa Itu Validasi Perasaan Anak?
Melansir dari laman Gladstone Psychiatry and Wellness, validasi perasaan anak adalah cara orang tua atau orang dewasa menunjukkan bahwa mereka memahami dan menerima emosi yang sedang dirasakan anak. Validasi bukan berarti selalu menyetujui tindakan anak, melainkan mengakui bahwa perasaan yang mereka alami adalah nyata.
Hal ini dapat dilakukan dengan mendengarkan anak tanpa menghakimi, mengenali emosi yang mereka rasakan, serta memberikan respons yang membuat anak merasa dipahami. Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap emosi merupakan bagian normal dari kehidupan dan dapat diekspresikan.
Validasi Bukan Berarti Membenarkan Semua Tindakan Anak
Masih banyak orang tua yang menganggap validasi sama dengan menuruti semua keinginan anak. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.
Orang tua tetap dapat menetapkan aturan atau mengatakan “tidak” terhadap suatu permintaan, sambil tetap mengakui perasaan anak.
Misalnya, ketika anak kecewa karena tidak diizinkan bermain hingga larut malam, orang tua dapat mengatakan, “Ayah tahu kamu kecewa karena tidak bisa ikut bermain bersama teman-teman. Wajar kalau kamu sedih, tetapi malam ini kamu tetap harus istirahat karena besok sekolah.”
Dengan cara tersebut, anak merasa emosinya dihargai tanpa mengubah aturan yang telah ditetapkan.
Cara Memvalidasi Perasaan Anak
Memvalidasi perasaan anak sebenarnya dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana, antara lain:
- Dengarkan anak dengan penuh perhatian tanpa langsung menyela.
- Amati ekspresi wajah, nada bicara, dan bahasa tubuhnya untuk memahami emosinya.
- Ulangi atau sebutkan emosi yang sedang dirasakan anak, misalnya, “Kamu kelihatannya sedih karena mainanmu rusak.”
- Tanyakan penyebab perasaannya agar anak merasa didengarkan.
- Jelaskan bahwa perasaan tersebut wajar dirasakan, tetapi tetap arahkan anak untuk mengekspresikannya dengan cara yang baik.
- Bedakan antara menerima perasaan anak dengan membenarkan perilaku yang tidak tepat.
Dengan kebiasaan tersebut, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mampu mengelola emosi, serta memiliki hubungan yang lebih erat dengan orang tua.
Manfaat Validasi Perasaan bagi Tumbuh Kembang Anak
Anak yang merasa didengar dan dipahami akan lebih percaya kepada orang tua sehingga tidak ragu menceritakan apa yang mereka alami.
Kebiasaan ini juga membantu anak mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang sehat.
Selain itu, validasi dapat meningkatkan rasa percaya diri, membangun ketangguhan saat menghadapi masalah, serta membuat anak lebih mampu mengendalikan perilakunya.
Berbagai penelitian bahkan menunjukkan bahwa anak yang emosinya dihargai cenderung lebih tenang, kooperatif, dan lebih jarang menunjukkan perilaku agresif atau tantrum dibandingkan anak yang perasaannya sering diabaikan.
Dengan demikian, memvalidasi perasaan anak bukan berarti memanjakan atau selalu menuruti keinginannya. Sebaliknya, kebiasaan sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi, mengakui emosi yang dirasakan, dan memberikan respons yang penuh empati dapat menjadi bekal penting bagi kesehatan mental.

















