Bali dikenal sebagai pulau kaya akan tradisi dan budaya, yang masih terjaga hingga kini. Salah satu tradisi yang paling terkenal adalah upacara Ngaben, yaitu prosesi kremasi yang dilakukan oleh umat Hindu Bali sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dunia.
Bagi masyarakat Hindu Bali, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari perjalanan baru bagi roh (atma).
Oleh karena itu, prosesi Ngaben tidak dipandang sebagai peristiwa yang penuh duka semata, tetapi juga sebagai bentuk pelepasan yang dilakukan dengan tulus agar roh dapat kembali ke asalnya dan menjalani proses reinkarnasi atau mencapai moksha, yaitu kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian.
Apa Itu Upacara Ngaben?
Melansir dari situs web resmi pemerintah Kabupaten Buleleng, Jumat 24 Juli 2026, Ngaben merupakan upacara pembakaran jenazah umat Hindu di Bali.
Upacara Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan untuk mengembalikan roh leluhur ke tempat asalnya.
Ngaben berasal dari bahasa Bali yang berarti “menuju api”. Dalam ajaran agama Hindu, api adalah lambang kekuatan Dewa Brahma, jadi “ngaben” berarti “menuju Brahma”.
Melalui proses kremasi, jasad dikembalikan kepada lima unsur pembentuk alam semesta atau Panca Maha Bhuta, sementara roh diyakini terbebas dari ikatan duniawi dan dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya.
Rangkaian Prosesi Ngaben
Melansir dari Kebudayaan Bali, pelaksanaan Ngaben berlangsung melalui beberapa tahapan, di antaranya:
1. Orang yang meninggal merupakan umat beragama Hindu
Hal ini karena Ngaben merupakan ritual keagamaan dalam ajaran Hindu yang didasarkan pada keyakinan tentang atman (roh), karma, samsara, dan moksha. Oleh karena itu, pelaksanaan Ngaben diperuntukkan bagi orang yang semasa hidupnya memeluk agama Hindu.
2. Ngeringkes
Tahap pertama dalam upacara Ngaben adalah Ngeringkes, yaitu proses memandikan dan mempersiapkan jenazah sebelum prosesi kremasi. Tahapan ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
- Pabersihan Hidup, yaitu memandikan jenazah. Dalam tradisi Hindu Bali, pada tahap ini jenazah diperlakukan seolah-olah masih hidup atau hanya sedang tertidur.
- Pebhaktian, yaitu kesempatan terakhir bagi keluarga untuk menghaturkan sembah bakti dan penghormatan kepada orang yang telah meninggal.
- Pabersihan Mati (Ngelelet), yaitu proses penyucian tubuh jenazah sebagai simbol agar roh memperoleh kelahiran kembali yang lebih baik.
- Pangeringkesan, yaitu membungkus dan mempersiapkan jenazah dengan memercikkan air suci (tirta pengringkes) sebagai tanda penyucian.
3. Singaskara
Setelah jenazah dipersiapkan, dilanjutkan dengan upacara Singaskara atau Pengaskaran. Tujuan upacara ini adalah menyucikan roh orang yang meninggal agar terbebas dari segala kotoran lahir dan batin serta dapat melanjutkan perjalanan menuju alam selanjutnya.
4. Mapegat
Tahap berikutnya adalah Mapegat, yaitu ritual yang melambangkan putusnya ikatan duniawi antara orang yang meninggal dengan keluarga yang ditinggalkan.
Dalam prosesi ini, anggota keluarga melakukan ritual menggunakan sarana upacara tertentu sebagai simbol keikhlasan melepas kepergian almarhum.
5. Puncak Upacara Ngaben
Puncak dari rangkaian Ngaben adalah proses pembakaran jenazah atau kremasi. Jenazah yang telah ditempatkan di dalam peti kemudian diusung menggunakan bade, yaitu menara khusus yang digunakan untuk membawa jenazah menuju tempat kremasi. Prosesi ini melambangkan pelepasan unsur-unsur tubuh agar roh dapat kembali kepada Sang Pencipta.
6. Nganyut
Tahap terakhir adalah Nganyut, yaitu menghanyutkan abu jenazah ke sungai, laut, atau perairan lainnya. Prosesi ini menjadi simbol kembalinya unsur-unsur tubuh ke alam semesta sekaligus menandai berakhirnya rangkaian upacara Ngaben. Di beberapa daerah di Bali, pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan tradisi setempat, misalnya menggunakan media tanah sebagai pengganti air.
Dengan melalui seluruh tahapan tersebut, umat Hindu Bali meyakini bahwa roh orang yang meninggal akan memperoleh penyucian dan dapat melanjutkan perjalanan menuju kehidupan berikutnya sesuai ajaran Hindu.
Bagi masyarakat Hindu Bali, Ngaben mengandung makna yang sangat mendalam. Upacara ini menjadi simbol bakti seorang anak kepada orang tua sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.
Melalui prosesi ini, keluarga percaya bahwa roh dapat terbebas dari keterikatan duniawi sehingga perjalanan menuju alam spiritual berlangsung dengan damai.
Ngaben mengajarkan nilai keikhlasan, penghormatan kepada leluhur, dan keyakinan bahwa kehidupan merupakan siklus yang terus berlanjut.
Tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya Bali yang tidak hanya memperlihatkan kekayaan adat, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup masyarakat Hindu yang telah diwariskan secara turun-temurun.



















