Tidur seharusnya menjadi waktu bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri. Namun, sebagian orang justru mengeluarkan suara dengkuran atau ngorok saat tidur.
Meski sering dianggap sebagai hal yang biasa, ngorok tidak selalu dapat dianggap sepele.
Pada banyak kasus, ngorok memang hanya terjadi sesekali akibat posisi tidur, kelelahan, atau saat hidung tersumbat.
Tapi jika dengkuran terjadi hampir setiap malam, disertai napas yang terhenti sesaat, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang memerlukan perhatian medis.
Dilansir dari laman Inaheart PERKI (Indonesian Heart Association / Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), berikut penjelasannya tentang ngorok dan kapan harus waspada.
Ngorok Bisa Terjadi?
Ngorok adalah suara yang keluar akibat getaran jaringan lunak di saluran napas bagian atas saat seseorang tidur.
Getaran ini terjadi ketika aliran udara melewati saluran napas yang menyempit, sehingga jaringan di sekitar tenggorokan bergetar dan menghasilkan suara dengkuran.
Faktornya bisa karena tidur telentang, kelelahan, hidung tersumbat, minum alkohol sebelum tidur, atau kelebihan berat badan.
Umumnya ngorok tidak berbahaya, namun jika terjadi hampir setiap malam, terdengar sangat keras, atau disertai jeda napas saat tidur, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele. Ngorok dengan ciri seperti ini menjadi tanda ngorok jenis OSA (Obstructive Sleep Apnea).
Apa Itu OSA?
OSA adalah kondisi ketika saluran napas bagian atas menyempit atau menutup berulang kali saat tidur. Akibatnya, aliran udara terhenti selama beberapa detik, bahkan bisa lebih dari satu menit, sebelum otak ‘membangunkan’ tubuh untuk kembali bernapas.
Kebanyakan, kejadian ini tidak disadari oleh penderita. Yang justru lebih dulu menyadarinya adalah pasangan tidur, karena mendengar dengkuran keras yang tiba-tiba berhenti, lalu suara tersedak, kemudian tarikan napas yang keras, dan kemudian ngorok kembali.
Risiko Ngorok
Untuk mengetahui apakah seseorang berisiko mengalami OSA, Dr. Frances Chung dan tim peneliti dari University Health Network yang berafiliasi dengan University of Toronto membuat sebuah metode skoring yaitu STOP-BANG untuk mengukur risiko ngorok.
Metode STOP-BANG terdiri dari delapan pertanyaan sederhana yang mencakup kebiasaan ngorok, rasa lelah di siang hari, riwayat henti napas saat tidur, tekanan darah tinggi, indeks massa tubuh, usia, lingkar leher, hingga jenis kelamin.
Cara mengukurnya yaitu setiap jawaban ‘ya’ bernilai satu poin. Jika seseorang memperoleh skor tiga atau lebih, maka tergolong berisiko tinggi mengalami OSA. Meski bukan alat diagnosis, hasil skrining ini dapat menjadi pertimbangan saat berkonsultasi dengan dokter.
Tidak Boleh Diabaikan?
Sebuah studi yang dipresentasikan di European Congress on Obesity (ECO) menemukan bahwa penderita Obstructive Sleep Apnea (OSA) memiliki risiko 71 persen lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular atau kematian dini dibandingkan mereka yang tidak memiliki gangguan napas saat tidur.
Hal ini menjadi perhatian karena kondisi seperti ini dapat meningkatkan beban kerja jantung, sehingga dapat memicu gangguan irama jantung, memperburuk hipertensi, hingga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Semakin cepat jenis ngorok dikenali, maka semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi. Penanganan dapat berupa perubahan gaya hidup, penggunaan alat bantu napas seperti CPAP, maupun terapi medis sesuai penyebabnya.




















