Terapi menjadi kebutuhan penting bagi sebagian anak neurodivergent untuk mengembangkan kemampuan dan kemandirian mereka kedepannya.
Namun, Survei “Suara Orang Tua” yang dilakukan Atelier of Minds (AOM) mengungkap 71 persen orang tua mengaku mengalami hambatan biaya agar anak mereka mendapatkan terapi secara berkelanjutan.
Temuan ini menjadi persoalan serius, karena kebutuhan anak neurodivergent tidak bisa berhenti pada satu tahap usia.
Ketika anak tumbuh, kebutuhan intervensinya pun bisa saja berubah, dan dukungan yang diperlukan pun ikut berkembang.
Founder Komunitas Berspektrum Nadira Saraswati mengatakan di komunitasnya, persoalan seperti ini memang kerap muncul. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keterbatasan akses terapi yang dapat ditanggung BPJS.
Pemerintah juga mengatur, cuma sampai umur 7 tahun saja (terapi) yang melalui BPJS. Padahal hidup anak itu kan panjang ya, kita nggak tahu sampai kapan,”
kata Nadira di Jakarta, pada Senin, 10 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi inilah yang membuat keluarga harus putar otak untuk memenuhi kebutuhan pendampingan setelah melewati batas layanan yang tersedia.
Bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, pilihan untuk melanjutkan terapi secara mandiri tentu bukanlah keputusan yang mudah.
Lead Psychologist AOM Erna Yulianti mengatakan memang intervensi yang dilakukan harus disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan setiap anak.
Karena itu, tenaga profesional perlu melakukan evaluasi secara berkala untuk melihat apakah pendekatan yang diberikan masih sesuai.
Setelah menjalankan intervensi, biasanya kita melakukan evaluasi dan monitoring,”
ujar Erna.
Seiring Bertambahnya Usia
Evaluasi ini penting, karena kemampuan yang perlu dikembangkan anak dapat berubah seiring bertambahnya usia.
Pendampingan yang dibutuhkan pada masa kanak-kanak belum tentu sama ketika anak mulai memasuki usia sekolah atau remaja.
Kondisi ini membuat terapi tidak cukup dipandang sebagai layanan sesaat. Persoalannya adalah bagaimana keluarga dapat mempertahankan akses terhadap pendampingan ketika kebutuhan anak berlangsung jauh lebih panjang dibandingkan kemampuan keluarga membiayainya.
Survei AOM pun memperlihatkan bahwa persoalan biaya bukan sekadar soal mahal atau murahnya terapi.
Karena dibaliknya ternyata ada persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana memastikan anak neurodivergent tetap mendapatkan pendampingan yang dibutuhkan ketika kemampuan keluarga untuk membayar layanan tidak lagi mencukupi.




















