Pernah nggak kamu melamun sambil ngebayangin masa depan, ngulang kejadian memalukan, ngobrol sama seseorang di kepala, atau bahkan bikin cerita sendiri kayak film?
Emang awalnya cuma kayak beberapa menit aja, tapi tanpa sadar kamu jadi tenggelam lama banget di dunia imajinasi? Mungkin kamu perlu kenalan dengan istilah maladaptive daydreaming.
Buat Gen Z, aktivitas kayak gini mungkin sering disebut “halu”. Sebenarnya, melamun atau berkhayal sesekali itu merupakan hal yang wajar banget, selama kamu masih bisa balik lagi ke realita dan jalanin aktivitas sehari-hari.
Tapi masalahnya kadang beberapa orang sulit mengontrol khayalannya sendiri hingga makan waktu banyak, dan mulai ganggu aktivitas belajar, kerja, hubungan sosial, atau rutinitas kamu.
Menurut informasi dari laman Psikolog Kak Gun, maladaptive daydreaming dapat membuat seseorang terlalu larut dalam dunia khayalan hingga mengabaikan kehidupan nyata.
Khayalannya juga bisa sangat detail, mulai dari karakter, percakapan, hubungan, sampai alur cerita yang terus berkembang dan menimbulkan keterikatan emosional.
Apa Saja Gejalanya?
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah intensitas khayalannya. Seseorang bisa tenggelam dalam cerita di kepalanya selama waktu yang panjang, bahkan merasa seperti menjadi tokoh utama.
Studi tentang maladaptive daydreaming menemukan bahwa aktivitas ini dapat melibatkan fantasi yang sangat hidup, naratif, dan emosional.
Tanda lainnya adalah sulit menghentikan khayalan. Kamu mungkin sadar ada tugas yang harus dikerjakan, tetapi tetap merasa ingin melanjutkan cerita di kepala.
Akibatnya, waktu untuk belajar, bekerja, tidur, atau bersosialisasi ikut terpotong. Kondisi ini kian mengkhawatirkan ketika kamu merasa kehilangan kontrol dan khayalan mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut juga bisa membuat konsentrasi berantakan. Misalnya, kamu sedang membaca buku atau mengerjakan tugas, tetapi pikiran tiba-tiba masuk ke skenario imajinasi.
Awalnya hanya sebentar, kemudian berkembang menjadi cerita panjang sampai kamu kehilangan fokus. Penelitian menunjukkan maladaptive daydreaming berkaitan dengan gangguan fungsi dan kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Selain produktivitas, dampaknya juga bisa terasa secara emosional. Seseorang dapat merasa bersalah setelah terlalu lama berkhayal, lebih nyaman berada di dunia imajinasi, atau mulai menarik diri dari lingkungan karena kehidupan nyata terasa kurang menyenangkan dibandingkan dunia di kepala.
Bedanya Halu Biasa?
Melamun tidak otomatis berarti maladaptive daydreaming. Kamu bisa saja berkhayal ketika bosan, mendengarkan musik, atau sebelum tidur, lalu kembali menjalani aktivitas seperti biasa.
Perbedaannya lebih terlihat dari intensitas, frekuensi, sulitnya mengontrol khayalan, serta sejauh mana aktivitas tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari.
Kenapa Bisa Terjadi?
Lantas, kenapa seseorang bisa “terjebak” dalam khayalan? Menurut informasi Psikolog Kak Gun, pengalaman seperti kesepian, trauma, kekerasan, atau tekanan emosional dapat menjadi konteks yang mendorong seseorang menggunakan khayalan sebagai pelarian sementara.
Namun, penyebabnya tidak selalu sama pada setiap orang. Kajian terbaru juga menemukan adanya hubungan maladaptive daydreaming dengan pengalaman traumatis, kesepian, kesulitan regulasi emosi, serta berbagai masalah psikologis.
Maladaptive daydreaming juga ditemukan berkaitan dengan ADHD, depresi, kecemasan, dan OCD dalam sejumlah penelitian.
Namun, hubungan tersebut bukan berarti seseorang yang mengalami maladaptive daydreaming pasti memiliki kondisi tersebut.
Meta-analisis 2025 menemukan adanya asosiasi antara maladaptive daydreaming dan berbagai masalah psikologis, tetapi hal tersebut tetap perlu dibedakan dari diagnosis masing-masing kondisi.
Gangguan Mental
Sampai sekarang, maladaptive daydreaming belum menjadi diagnosis resmi dalam sistem klasifikasi gangguan mental. Karena itu, jangan langsung melakukan self-diagnose hanya karena merasa punya beberapa cirinya.
Bahkan, para peneliti masih memperdebatkan posisi kondisi ini dalam klasifikasi gangguan mental dan mendorong penelitian lebih lanjut.
Cara Mengatasinya?
Kalau khayalan sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan buru-buru mencari “obat” sendiri. Menurut informasi Brain Academy, pendekatan seperti cognitive behavioral therapy (CBT) dapat digunakan untuk membantu memahami pola pikiran dan perilaku.
Namun, bukti mengenai penanganan khusus maladaptive daydreaming masih berkembang. Salah satu uji klinis menemukan bahwa latihan mindfulness dan self-monitoring berbasis internet dapat membantu mengurangi gejala pada sebagian peserta, tetapi penelitian terapi yang lebih luas masih dibutuhkan.
Kamu bisa mulai mencari bantuan kalau khayalan sudah makan banyak waktu, tugas terbengkalai, jam tidur berantakan, hubungan sosial mulai renggang, atau kamu merasa sulit mengendalikan kebiasaan tersebut.
Berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu melihat apakah masalah tersebut memang berkaitan dengan maladaptive daydreaming atau kondisi lain.
Suka “halu” bukan berarti kamu otomatis mengalami maladaptive daydreaming. Berimajinasi merupakan bagian normal dari kehidupan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika dunia khayalan mulai mengambil alih waktu, sulit dikendalikan, menimbulkan tekanan emosional, dan membuat kehidupan nyata ikut berantakan.
Kalau kamu mulai merasa, “Aku sebenarnya pengen berhenti, tapi kok susah banget ya?”, mungkin ini saatnya berhenti sejenak dan memperhatikan kondisi diri sendiri.
Nggak perlu langsung memberi label pada diri, tetapi jangan abaikan jika khayalan sudah mengganggu hidup. Imajinasi seharusnya menemani kehidupanmu, bukan menggantikannya.






















