Viral sebuah postingan akun Instagram @bloraupdates1 yang mengungkap dugaan penyebab 141 siswa di Blora mengalami keracunan usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam unggahan tersebut disebutkan jika Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora menemukan sejumlah ketidaksesuaian saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SPPG Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan, pada Selasa, 8 September 2026.
Salah satu temuan yang langsung mencuri perhatian yakni tempe yang diletakkan tepat di depan pintu toilet dapur SPPG.
Tak hanya itu, petugas juga menemukan daging dan sejumlah bahan pangan lain yang penyimpanannya tidak sesuai dengan SOP.
Padahal bahan makanan seharusnya ditempatkan di area khusus dan jauh dari sumber yang berpotensi menyebabkan kontaminasi.
Tak hanya penyimpanan, petugas juga menemukan penggunaan minyak curah di SPPG tersebut. Sedangkan Badan Gizi Nasional (BGN) tidak menganjurkan penggunaan minyak curah untuk kebutuhan penyediaan menu MBG.
Mengalami Keluhan Kesehatan
Selain itu, Dinkesda Blora juga menerima laporan tambahan terkait siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG.
Pada 7 September 2026, total laporan siswa yang mengalami keracunan telah mencapai 141 orang dari tiga satuan pendidikan.
Dengan rincian, sebanyak 137 orang dari SMA Negeri 1 Tunjungan, termasuk satu guru. Dari jumlah tersebut, 133 siswa masuk sekolah dan tiga siswa lainnya tidak masuk sekolah.
Kemudian, terdapat tiga siswa dari SMP Al-Banjari serta satu siswa dari SD IT yang juga dilaporkan mengalami keluhan.
Unggahan @bloraupdates1 sontak dibanjiri komentar warganet. Banyak yang mempertanyakan bagaimana bahan makanan untuk program MBG bisa ditemukan di lokasi yang dianggap tidak sesuai.
Gimana gak keracunan anak orang…kacau,”
tulis @imansudrajat159.
Ada pula warganet yang langsung mengaitkan kondisi penyimpanan tersebut dengan SOP.
Tempatnya gak sesuai SOP, gmn gak keracunan,”
komentar @iis78rinos.
Sementara itu, akun @rhatry_astuti mempertanyakan pelatihan keamanan pangan yang seharusnya diterapkan sebelum SPPG beroperasi.
Diluar nurul Gak abis pikir lg ya Allah. MEREKA ITU TRAINING HACCP GASIII SEBELUM SPPG JALAN!!!!!”
tulisnya.
Komentar lain juga menyoroti keberadaan ahli gizi dalam pengelolaan program tersebut.
Ahli gizinya kemana itu woooyyyy. Absen doang? Wkwk,”
sindir @dkkb.
Ada pula netizen yang menanggapi kasus tersebut dengan nada menyindir.
Ada aja gebrakan mbg tiap hari,”
tulis @iirfan.fauzii.
Meski temuan di SPPG Sukorejo 2 memicu sorotan, belum ada kesimpulan bahwa kondisi penyimpanan tersebut menjadi penyebab 141 siswa mengalami keluhan kesehatan.
Pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan sumber kontaminasi dan kaitannya dengan keluhan kesehatan yang dialami para siswa.







