Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami sekitar 500 santri di Sidoarjo, Jawa Timur, dinilai harus jadi titik balik bagi pemerintah. Langkah itu untuk mengevaluasi pelaksanaan program MBG secara menyeluruh.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebut penanganan kasus MBG tak boleh berhenti pada pemberian layanan medis kepada korban dan penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga bermasalah.
Kasus Sidoarjo adalah alarm keras bagi pemerintah,”
kata Koordinator Advokasi Sekretariat Nasional JPPI Ari Hardi kepada Owrite, Kamis, 3 September 2026.
Menurut Ari, lebih dari 500 santri harus dapat penanganan medis di delapan rumah sakit setelah diduga mengonsumsi MBG. Skala kejadian itu dinilai menunjukkan persoalan keamanan makanan dalam program MBG yang tak lagi tepat dipandang semata sebagai insiden di satu dapur.
Ari juga menyoroti akumulasi kasus dugaan keracunan MBG secara nasional. Berdasarkan pemantauan organisasi tersebut, sebanyak 12.656 korban di antaranya tercatat hanya dalam periode Januari hingga awal Agustus 2026.
Bagi Ari, angka itu seharusnya jadi alarm nasional, bukan sekadar statistik.
Ini bukan angka statistik. Ini puluhan ribu manusia yang mengalami dampak dari program yang seharusnya memberikan makanan bergizi dan aman,”
ujar Ardi.
Lebih lanjut, dia mengkritik berapa banyak korban lagi yang harus muncul sebelum pemerintah melakukan evaluasi besar terhadap pelaksanaan MBG.
Ardi pun mengingatkan agar pemerintah tak menunggu jumlah korban mencapai 50 ribu atau muncul korban jiwa yang lebih banyak.
Jangan tunggu korban ke-50 ribu. Jangan tunggu korban jiwa. Pemerintah harus membenahi sistem MBG sekarang,”
jelas Ardi.
Menurut Ardi, kasus Sidoarjo mestinya tak diperlakukan sebagai persoalan yang selesai setelah SPPG dihentikan sementara dan korban mendapatkan penanganan.
Pemerintah perlu melihat pola kejadian secara lebih luas untuk memastikan persoalan serupa tak terus berulang.
Pemerintah harus berhenti melihat kasus keracunan sebagai kesalahan individual atau kesalahan satu dapur. Setelah puluhan ribu korban, yang harus diperiksa adalah sistemnya,”
ujar Ardi.
Lebih lanjut, dia menyampaika tujuan utama MBG adalah memenuhi hak anak atas makanan yang bergizi, sehat, dan aman. Maka itu, keselamatan penerima manfaat harus jadi bagian utama dari keberhasilan program, bukan sekadar banyaknya makanan yang didistribusikan.
Sidoarjo harus menjadi titik balik,”
tutur Ardi.


























