Punya tas branded, nongkrong di tempat mahal, lalu buru-buru upload ke Instagram Story. Kalau semua itu dilakukan supaya orang lain tahu, sebenarnya kamu sedang membeli barang atau sedang membeli validasi?

Fenomena flexing alias memamerkan kekayaan memang bukan hal baru di media sosial. Mulai dari outfit dengan logo merek yang sengaja dibuat mencolok, liburan mahal, sampai kebiasaan menunjukkan gaya hidup mewah.

Namun, cara seseorang memperlakukan uang ternyata bisa dipengaruhi oleh pola pikir tertentu. Dalam psikologi keuangan, pola tersebut dikenal dengan istilah money script.

Konten kreator TikTok @kelspatriciaa yang dikutip pada Sabtu, 12 September 2026, membahas empat jenis money script yang dapat menggambarkan cara seseorang memandang uang.

Lantas, kamu termasuk yang mana?

  1. Money Avoidance

Kamu tipe orang yang memang sengaja tidak pernah mengecek saldo rekening karena takut melihat kenyataan?

Bisa jadi kamu punya kecenderungan money avoidance.

@kelspatriciaa menjelaskan, orang dengan pola ini cenderung memandang uang sebagai sesuatu yang buruk atau tidak nyaman untuk dihadapi. Akibatnya, ia sering menghindari urusan finansial.

Misalnya, malas mengecek rekening, tidak mencatat pengeluaran, atau memilih tidak tahu berapa banyak uang yang sudah dihabiskan.

Masalahnya, saldo tetap tidak akan bertambah hanya karena aplikasinya tidak dibuka.

  1. Money Vigilance

Kebalikannya money avoidance, orang dengan money vigilance justru sangat memperhatikan uang.

Mereka bisa begitu takut kehabisan uang atau jatuh miskin sampai-sampai terlalu membatasi pengeluaran.

Menabung memang penting. Namun, menurut @kelspatriciaa, seseorang juga perlu menikmati hasil kerja kerasnya.

Jangan sampai setiap mau beli sesuatu yang memang dibutuhkan atau sekadar menikmati hasil kerja, muncul rasa bersalah berlebihan.

Hemat boleh, tetapi kalau hidup cuma untuk mengumpulkan uang tanpa pernah menikmatinya, kapan hasil kerja keras itu dirasakan?

  1. Money Worship

Pola berikutnya adalah money worship.

Sederhananya, uang diposisikan seperti “penyelamat” yang dianggap bisa membuat hidup otomatis lebih bahagia.

Punya uang lebih banyak dianggap akan membuat semua masalah selesai.

Masalahnya, definisi “lebih banyak” ini sering tidak punya garis akhir. Sudah punya satu target, ingin target berikutnya. Sudah membeli sesuatu, muncul keinginan baru.

Akhirnya, seseorang akan terus mengejar uang tanpa benar-benar merasa cukup.

  1. Money Status

Nah, ini yang paling nyambung dengan fenomena flexing di media sosial.

@kelspatriciaa menyebut pola keempat sebagai money status, yaitu ketika seseorang mengaitkan uang dengan status dan persepsi orang lain terhadap dirinya.

Dalam pola ini, barang mahal bukan sekadar barang. Tas branded, sepatu mahal, mobil mewah, atau outfit dengan logo yang mencolok bisa menjadi simbol untuk menunjukkan status sosial.

Semakin terlihat mahal, semakin besar pula kepuasan yang didapat dari bagaimana orang lain memandangnya.

Jadi, ketika seseorang membeli barang mahal bukan hanya karena suka atau membutuhkan. Namun, juga karena ingin terlihat sukses, di situlah unsur money status bisa terlihat.

Meski begitu, bukan berarti setiap orang yang memakai barang branded otomatis memiliki money status.

Seseorang bisa saja membeli barang mahal karena memang menyukai desainnya, kualitasnya, atau sudah lama menginginkannya.

Yang menjadi perhatian adalah alasan di balik keputusan tersebut.

Apakah barang itu dibeli karena memang mampu dan sesuai kebutuhan? Atau karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain?

Sebab, beda tipis antara “aku suka barang ini” dan “aku ingin orang lain tahu kalau aku mampu beli barang ini.”

Jadi, uang memang bisa membeli banyak hal. Tetapi, kalau rasa berharga kita sepenuhnya bergantung pada harga barang yang dipakai, validasi orang lain bisa menjadi sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada habisnya.