Pernah nggak sih, kamu lihat orang yang nyeletuk sesuatu hingga bikin tongkrongan mendadak hening? Bukannya ikut memeriahkan suasana, dia malah ngomong santai seolah nggak terjadi apa-apa.
Atau pernah melihat artis, influencer, atau teman kita sendiri yang kalau lagi ada isu besar yang lagi banyak disuarakan masyarakat, dia memilih diam, menghindari, bahkan membahas hal lain yang sama sekali nggak nyambung.
Nah di media sosial, orang yang punya sikap kayak gini sering disebut dilabeli dengan istilah ‘tone deaf’. Kalau diartikan secara bahasa ‘tone deaf’ adalah istilah musik buat orang yang ‘buta nada’ alias fals kalau nyanyi.
Istilah tone deaf memang semakin sering muncul di media sosial. Tapi ternyata, maknanya bukan sekadar orang yang nggak bisa nyanyi.
Tone Deaf Artinya Apa?
Melansir dari MyView Glasses, tone deaf memiliki dua makna, yakni dalam musik dan kehidupan sosial.
Dalam musik, istilah ini berkaitan dengan seseorang yang kesulitan mengenali atau menghasilkan nada yang tepat. Sementara dalam konteks sehari-hari, tone deaf berarti kurang peka terhadap suasana, perasaan orang lain, atau konteks sebuah situasi.
Gampangnya, tone deaf bisa dimaknai sebagai gagal membaca situasi alias nggak bisa “read the room”.
Misalnya, seseorang sedang curhat soal kondisi keuangan yang sulit. Bukannya berempati, kamu malah cerita soal bingung memilih destinasi liburan mewah.
Walaupun tidak bermaksud menyakiti, respons seperti itu bisa dianggap tone deaf karena tidak sesuai dengan situasi.
Ciri-Cirinya Seperti Apa?
Melansir Halosehat, seseorang yang dianggap tone deaf secara sosial dapat menunjukkan sejumlah perilaku tertentu.
1. Sulit membaca situasi
Salah satu cirinya adalah kesulitan memahami situasi yang sedang terjadi.
Contohnya, seseorang tetap berbicara dengan suara keras ketika berada di tempat yang membutuhkan ketenangan atau terus membahas topik yang membuat lawan bicara terlihat tidak nyaman.
Ia mungkin tidak menyadari bahasa tubuh atau perubahan ekspresi orang-orang di sekitarnya.
2. Kurang peka terhadap perasaan
Orang yang tone deaf secara sosial juga dapat kesulitan memahami perasaan orang lain.
Misalnya, ketika seorang teman baru kehilangan pekerjaan, respons yang diberikan justru, “Lumayan, jadi punya banyak waktu luang.”
Maksudnya mungkin ingin menghibur. Namun, karena tidak sesuai dengan kondisi emosional temannya, ucapan tersebut justru bisa terdengar meremehkan.
3. Tidak memahami norma sosial
Ada banyak aturan sosial yang sebenarnya tidak tertulis, tetapi dipahami oleh orang-orang dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya, tidak memotong pembicaraan, tidak mengambil barang orang lain tanpa izin, atau memahami kapan waktu yang tepat untuk bercanda.
Seseorang yang kurang peka terhadap norma tersebut dapat melakukan sesuatu yang dianggap tidak sopan tanpa menyadari masalahnya.
4. Kurang memahami budaya
Situasi sosial juga berkaitan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat. Apa yang dianggap biasa di satu tempat belum tentu dianggap pantas di tempat lain.
Karena itu, seseorang perlu menyesuaikan diri dengan adat dan kebiasaan ketika berada di lingkungan yang berbeda.
Apa Dampaknya?
Kurang peka terhadap situasi dapat mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang-orang di sekitarnya.
Sikap tersebut bisa membuat seseorang lebih sering terlibat konflik, sulit membangun hubungan dekat, kehilangan kesempatan tertentu, hingga dijauhi lingkungan sosial.
Masalahnya, orang yang bersikap tone deaf terkadang baru menyadari kesalahannya setelah mendapat respons negatif dari orang lain. Karena itu, kemampuan membaca situasi dan menerima masukan menjadi penting dalam hubungan sosial.
Pada akhirnya, kemampuan membaca suasana bukan cuma soal tahu kapan harus bicara atau diam. Lebih dari itu, seseorang perlu belajar memahami perasaan, kondisi, serta pengalaman orang lain sebelum memberikan respons.
Sebab, terkadang yang membuat sebuah ucapan terasa menyakitkan bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi kapan dan kepada siapa kalimat tersebut disampaikan.






