Ketika seorang pemimpin dianggap gagal menjalankan tanggung jawab atau tidak amanah terhadap orang yang dipimpinnya, tuntutan untuk bertanggung jawab biasanya muncul.

Bentuknya bisa berupa permintaan maaf, pengunduran diri, hingga menerima konsekuensi atas keputusan yang dibuat.

Namun, dalam sejarah Jepang, terdapat tradisi yang menempatkan kegagalan dan hilangnya kehormatan dalam konteks yang jauh lebih ekstrem.

Tradisi tersebut dikenal dengan istilah seppuku atau yang lebih populer di luar Jepang sebagai harakiri. Bagi kalangan samurai pada masa lalu, tindakan ini berkaitan dengan kehormatan, kesalahan, kegagalan menjalankan tanggung jawab, hingga upaya menghindari aib atau penangkapan oleh musuh.

Harakiri dan Seppuku

Harakiri dan seppuku pada dasarnya merujuk pada tindakan yang sama. Melansir dari laman Mai-Ko, eduanya menggunakan karakter kanji yang sama, tetapi dibaca dengan cara berbeda.

Istilah hara-kiri secara harfiah berarti “memotong perut”, sedangkan seppuku lebih banyak digunakan untuk merujuk pada ritual dan tata cara tradisionalnya.

Di Jepang sendiri, istilah seppuku lebih umum digunakan, sedangkan harakiri lebih sering dikenal oleh masyarakat luar Jepang. 

Harakiri menekankan tindakan memotong perut, sementara seppuku memiliki nuansa yang lebih formal karena berkaitan dengan ritual yang dilakukan dalam tradisi samurai.

Menjaga Kehormatan

Tradisi seppuku diperkirakan telah dikenal sejak abad ke-12 dan pada awalnya dilakukan oleh kalangan samurai serta kelas atas. Tindakan tersebut dapat dilakukan untuk menebus kesalahan, mendapatkan kembali kehormatan, atau menghindari penangkapan yang dianggap membawa aib.

Dalam budaya samurai, kehormatan memiliki posisi penting. Karena itu, kegagalan dalam menjalankan tanggung jawab atau kesalahan tertentu dapat membawa konsekuensi serius.

Bisa Sukarela atau Hukuman

Dalam sejarahnya, terdapat seppuku yang dilakukan secara sukarela dan ada pula yang bersifat wajib. Seppuku sukarela dapat dilakukan setelah seorang samurai melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan.

Kemudian ada pula oibara, yaitu tindakan seppuku yang dilakukan setelah seorang samurai kehilangan tuannya.

Sementara itu, seppuku wajib digunakan sebagai bentuk hukuman bagi samurai yang melakukan pelanggaran berat, seperti pengkhianatan atau tindak kekerasan. Namun praktik seppuku wajib kemudian dilarang pada 1873.

Mengapa di Bagian Perut?

Pemilihan perut dalam tradisi tersebut juga memiliki makna simbolis. Salah satu penjelasan dalam materi menyebutkan adanya kepercayaan bahwa jiwa atau roh berada di dalam perut. Membuka bagian tersebut dianggap sebagai cara untuk membebaskan roh dari tubuh.

Selain itu, tindakan membuka bagian dalam tubuh dikaitkan dengan simbol kemurnian dan keterbukaan. Seseorang yang tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan dianggap dapat menunjukkan bagian dalam dirinya sebagai bentuk pembuktian atas ketulusan atau ketidakbersalahannya.

Tindakan Individual

Seppuku yang berkembang sebagai ritual memiliki tata cara tertentu. Samurai yang menjalankannya biasanya mengenakan pakaian putih, mendapat makanan terakhir, dan dalam beberapa catatan menulis puisi kematian atau pesan perpisahan.

Dalam ritual tersebut juga terdapat kaishakunin, yaitu orang yang berdiri di belakang samurai dan melakukan tindakan terakhir untuk mengakhiri penderitaan.

Kehadiran kaishakunin menunjukkan bahwa seppuku memiliki aturan dan peran sosial yang lebih kompleks daripada sekadar tindakan mengakhiri hidup.

Seppuku di Era Modern

Seiring berakhirnya sistem samurai, seppuku tidak lagi menjadi bagian dari sistem hukuman. Meski demikian, tindakan tersebut masih muncul dalam sejumlah peristiwa pada era modern.

Salah satu yang paling terkenal adalah penulis Jepang Yukio Mishima. Pada 1970, ia melakukan seppuku setelah upayanya mengajak pasukan di sebuah markas

Pasukan Bela Diri Jepang untuk mendukung pemulihan konstitusi kekaisaran tidak mendapat respons yang diharapkannya.

Saat ini, seppuku lebih tepat dipahami sebagai bagian dari sejarah dan budaya samurai. Praktik tersebut sudah tidak menjadi bentuk hukuman yang berlaku di Jepang.

Bahkan tindakan bunuh diri dengan cara melukai bagian perut sangat jarang terjadi di Jepang masa kini.