Pengalaman kekerasan atau kejadian yang membuat anak takut, dapat meninggalkan dampak yang berbeda pada setiap anak.
Pada sebagian anak, pengalaman tersebut bahkan dapat memunculkan rasa takut atau respons traumatis.
Psikolog klinis Meity Arianty mengatakan orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku anak sekecil apa pun, terutama jika perubahan tersebut muncul setelah anak mengalami kejadian yang membuatnya takut atau merasa tidak aman.
Pada anak kecil, pengalaman yang belum mampu mereka ceritakan dengan kata-kata sering kali muncul melalui perilaku dan permainan,”
kata Meity kepada Owrite, pada Senin, 21 September 2026.
Meski begitu, orang tua tidak boleh langsung menyimpulkan anak mengalami trauma hanya berdasarkan satu perilaku saja.
Sebab, bisa jadi perubahan perilaku mereka muncul karena anak meniru tindakan orang dewasa atau sesuatu yang pernah mereka lihat.
Lantas, apa saja tanda yang perlu diperhatikan dan bagaimana cara orang tua mendampingi anak setelah mengalami kejadian yang membuatnya takut?
Tanda Trauma Anak
Meity mengatakan, dampak traumatis dapat dialami anak pada usia berapa pun, termasuk bayi dan balita.
Pada anak kecil, dampaknya sering kali lebih terlihat melalui perubahan perilaku karena mereka belum selalu mampu menceritakan apa yang dirasakan.
Orang tua perlu memperhatikan jika setelah mengalami suatu kejadian anak menunjukkan perubahan seperti menjadi lebih takut, sangat melekat kepada orang tua, atau tidak mau ditinggal.
Perubahan lain yang juga perlu diamati antara lain anak jadi sulit tidur, mengalami mimpi buruk, mudah marah, menarik diri, hingga kembali melakukan perilaku yang sebelumnya sudah ditinggalkan.
Orang tua juga perlu memperhatikan jika anak terus mengulangi perilaku tertentu yang berkaitan dengan pengalaman yang mereka alami.
Namun, jangan terburu-buru memberi label trauma hanya berdasarkan satu atau dua perilaku. Orang tua sebaiknya melihat perubahan anak secara menyeluruh dan tetap berusaha memberikan rasa aman.
Jangan Paksa Anak Bercerita
Ketika melihat perubahan perilaku, orang tua mungkin terdorong untuk terus bertanya agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, Meity mengingatkan anak tidak perlu dipaksa untuk segera bercerita. Orang tua juga sebaiknya menghindari tindakan menginterogasi atau menyalahkan anak.
Hal serupa berlaku ketika anak menunjukkan atau meminta melakukan perilaku yang berkaitan dengan kekerasan. Orang tua sebaiknya tidak mengikuti permintaan tersebut.
Sebaliknya, berikan respons yang menenangkan dan memastikan anak berada dalam kondisi aman.
Orang tua dapat mengatakan, “Kalau ada sesuatu yang membuat Ade takut atau tidak nyaman, boleh cerita ke Mama.”
Bantu Anak Merasa Aman
Anak juga tidak perlu dipaksa untuk segera melupakan kejadian yang menyakitkan. Menurut Meity, hal utama yang dibutuhkan anak setelah mengalami pengalaman buruk adalah rasa aman.
Sebagai orang tua sebaiknya membantu dengan mempertahankan rutinitas yang membuat anak nyaman. Berikan pula kesempatan kepada anak untuk bermain dan memilih hal-hal sederhana dalam kesehariannya.
Cara tersebut dapat membantu anak kembali punya rasa memiliki kendali atas dirinya setelah mengalami situasi yang membuatnya takut atau tidak berdaya.
Selain itu, berikan anak waktu untuk pulih tanpa menuntutnya segera kembali seperti sebelum kejadian.
Memang tidak setiap perubahan perilaku berarti anak mengalami trauma. Namun, orang tua dapat mempertimbangkan bantuan profesional jika perubahan tersebut menetap, semakin berat, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari anak.
Bantuan profesional juga dapat dipertimbangkan jika anak terus mengulang tema kejadian dalam permainan, menunjukkan ketakutan yang kuat, mengalami mimpi buruk, atau mengalami perubahan perilaku yang signifikan.
Psikolog nantinya dapat membantu menilai apakah perubahan tersebut berkaitan dengan respons trauma, perilaku meniru, atau ada hal lain yang perlu diperhatikan.
Anak tidak perlu dipaksa sembuh cepat, anak perlu ditemani sampai ia kembali merasa aman,”
pungkas Meity.






