Memarahi anak menjadi salah satu respons yang terkadang dilakukan orang tua ketika anak melakukan kesalahan.
Namun, bukan hanya isi teguran yang perlu diperhatikan, melainkan juga kondisi anak dan orang tua ketika komunikasi tersebut berlangsung.
Melansir dari laman KlikDokter (03 Mei 2022), psikolog anak dari Child Mind Institute, Steven Dickstein, MD, menjelaskan bahwa anak yang lelah atau lapar lebih mudah mengalami perubahan perilaku.
Karena itu, orang tua perlu mengenali pemicu tersebut dan berusaha tetap tenang sebelum merespons perilaku anak.
American Academy of Pediatrics (AAP) juga menyarankan orang tua menggunakan disiplin positif dengan kata-kata dan tindakan yang tenang.
Selain itu, waktu juga menjadi kunci dari efek Selain itu, waktu juga menjadi kunci dalam menentukan bagaimana teguran dapat diterima oleh anak.
Lima Waktu Dilarang
1. Saat Anak Hendak Tidur
Menjelang waktu tidur, anak yang sudah lelah dapat menjadi lebih mudah rewel. Alih-alih langsung memarahi, orang tua dapat membantu anak menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah anak lebih tenang dan siap berkomunikasi, barulah kesalahan yang dilakukan dibicarakan.
2. Sesaat Setelah Anak Bangun Tidur
Orang tua dapat memberikan waktu kepada anak untuk bangun, bersiap, dan menyesuaikan diri terlebih dahulu. Jika ada kesalahan yang perlu dibicarakan, pembahasan dapat dilakukan setelah anak berada dalam kondisi yang lebih siap.
3. Saat Sedang Makan
Jika anak melakukan kesalahan ketika makan, orang tua tetap dapat memberikan batasan. Namun, sampaikan dengan singkat dan tenang, misalnya, “Makanannya jangan dilempar, ya. Kalau sudah selesai, taruh di meja.”
4. Saat Sedang Tantrum
Ketika anak sedang mengalami ledakan emosi, memarahinya dengan suara yang lebih keras sering kali tidak menyelesaikan masalah.
Anak yang sedang kewalahan oleh emosinya membutuhkan bantuan untuk kembali tenang sebelum dapat diajak membicarakan perilakunya.
5. Saat Kondisi Orang Tua Sedang Marah
Ketika emosi orang tua sedang memuncak, risiko mengeluarkan kata-kata kasar, berteriak, bahkan melakukan kekerasan fisik dapat meningkat. Karena itu, orang tua tidak harus selalu menyelesaikan masalah saat itu juga.
Jika kondisi memungkinkan, ambil jeda beberapa menit untuk menenangkan diri sebelum berbicara dengan anak.
Marah dengan Cara Baik
Emosi tidak harid dilampiaskan dengan membentak, menghina, mempermalukan, atau memukul anak. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi yang responsif antara anak dan pengasuh membantu membangun koneksi otak yang mendukung perkembangan sosial dan emosional.
Sebaliknya, stres yang kuat, sering, dan berkepanjangan tanpa dukungan orang dewasa dapat mengganggu perkembangan otak dan meningkatkan risiko masalah kesehatan dalam jangka panjang.
Karena itu, yang perlu dihindari bukan sekadar “marah”, melainkan pola kemarahan yang keras, berulang, dan membuat anak merasa tidak aman.
Jangan Malu Meminta Maaf
AAP juga menganjurkan komunikasi yang berfokus pada perilaku, bukan memberi label buruk kepada anak. Kalimat seperti “Ibu tidak suka ketika kamu melakukan itu” lebih membantu daripada mengatakan “Kamu anak nakal.”
Dan orang tua tidak harus menjadi sempurna setiap saat. Jika terlanjur membentak anak, orang tua dapat mengakui kesalahan dan meminta maaf setelah keadaan tenang.
Misalnya, “Tadi Ibu terlalu keras bicara. Ibu marah karena melihat kamu melakukan itu, tetapi cara Ibu menyampaikannya tidak tepat.”
Mendisiplinkan anak bukan berarti membuat anak takut kepada orang tua. Tujuannya adalah membantu anak memahami perilaku yang benar, belajar mengelola emosi, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Disiplin yang tenang, konsisten, dan penuh penghargaan dapat membantu proses tersebut berjalan lebih baik.





















