Viral di media sosial postingan yang membagikan cerita mengenai orang tua dari anak korban kekerasan di daycare Little Aresha, Yogyakarta. Anak korban kekerasan di daycare disebut masih kerap bermain dengan cara mengikat.

Fenomena ini pertama kali di dibagikan oleh pengguna Threads @hitawangse. Dalam unggahannya, ia menceritakan mengenai sejumlah anak yang disebut masih menunjukkan perilaku mengikat mainan.

Anakku juga gitu kak, dia pinter sekali dalam hal ikat mengikat karena dia juga salah satu korban dari daycare tersebut. Dia praktik pakai tisu basah yang digulung-gulung sampai panjang lalu dia ikat di kakinya sambil dia bilang, ‘Kalau adek nakal ditali aja, Mama’,”

tulis @heztityasningrum dikutip pada Senin, 21 September 2026.

Perilaku itu kemudian menjadi perhatian karena anak disebut masih mengulang aktivitas yang berkaitan dengan pengalaman pengikatan, bahkan menghubungkannya dengan kondisi ketika dirinya dianggap nakal.

Psikolog klinis Meity Arianty mengatakan perilaku semacam itu bisa jadi salah satu kemungkinan bentuk trauma reenactment atau pengulangan pengalaman traumatis melalui permainan.

Kemungkinan bentuk trauma reenactment atau pengulangan pengalaman traumatis melalui permainan. Tapi, ini harus dicek apakah ada trauma atau hanya sekedar meniru, sebab anak-anak lebih mudah meniru apa yang dilakukan orang dewasa,”

kata Meity kepada Owrite, Senin, 21 September 2026.

Meity mengungkapkan hal ini bisa terjadi karena anak kecil belum mampu untuk menceritakan pengalamannya melalui kata-kata. Akibatnya pengalaman yang belum bisa mereka utarakan terkadang muncul melalui perilaku atau permainan yang dilakukan sehari-hari.

Dalam kondisi itu, Meity minta agar orang tua lebih memperhatikan perilaku bermain anak dengan tema serupa. Terlebih ketika anak mulai menganggap tindakan merupakan hal yang normal.

Meity mengatakan, orang tua perlu lebih waspada ketika anak mulai mengatakan atau meminta dirinya diikat saat melakukan sesuatu yang dianggap nakal.

Karena kondisi ini bisa menunjukkan bahwa pengalaman diikat mulai masuk ke dalam cara anak memahami bentuk disiplin atau konsekuensi ketika melakukan kesalahan.

Meski demikian, Meity mengingatkan orang tua agar tak buru-buru menyimpulkan anak mengalami trauma hanya karena melihat satu perilaku tertentu.

Jangan buru-buru memberi label trauma hanya berdasarkan satu perilaku. Yang paling penting adalah melihat perubahan anak secara menyeluruh dan memberikan rasa aman,”

ujarnya.

Menurutnya, perilaku bermain ikat-ikatan juga bisa saja muncul karena anak meniru apa yang pernah dilihat atau dialaminya. Karena itu, diperlukan pengamatan lebih lanjut untuk mengetahui apakah perilaku tersebut berkaitan dengan trauma atau sekadar bentuk permainan.

Jika perilaku terus berulang, disertai perubahan lain yang mengkhawatirkan, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari anak, Meity menyarankan agar orang tua berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan penilaian lebih lanjut.