Bagi masyarakat Indonesia, tidur biasanya identik dengan kasur dan ranjang. Namun, pemandangan berbeda bisa ditemukan di Jepang.
Di sejumlah rumah maupun penginapan tradisional, orang justru tidur dengan alas yang digelar langsung di lantai.
Kebiasaan tersebut bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi berkaitan dengan cara masyarakat Jepang memanfaatkan ruang dan mempertahankan tradisi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu perlengkapan yang digunakan adalah futon.
Dilansir dari laman Japanese Taste (9 September 2026), berikut beberapa alasan futon tetap populer di Jepang.
Futon Jepang
Futon Jepang merupakan perlengkapan tidur yang dirancang untuk digelar langsung di atas lantai atau tatami. Salah satu bagian utamanya disebut shikibuton, yaitu kasur tipis yang berfungsi sebagai alas tubuh saat tidur.
Berbeda dengan futon yang dikenal di negara-negara Barat sebagai sofa yang dapat diubah menjadi tempat tidur, futon Jepang memiliki bentuk yang lebih sederhana dan ringan.
Setelah digunakan, alas tidur ini dapat dilipat dan disimpan sehingga tidak harus terus berada di dalam ruangan.
Satu set futon biasanya terdiri dari shikibuton sebagai alas tidur, kakebuton berupa selimut atau selimut tebal, serta makura atau bantal. Dalam kamar bergaya tradisional, shikibuton umumnya diletakkan di atas tatami.
Menghemat Ruang
Salah satu alasan futon populer di Jepang adalah bentuknya yang praktis dan tidak membutuhkan ruang permanen seperti ranjang.
Setelah bangun tidur, futon dapat dilipat lalu disimpan di lemari yang disebut oshiire. Area yang digunakan untuk tidur pun bisa kembali dimanfaatkan sebagai ruang untuk beraktivitas pada siang hari.
Hal ini membuat satu ruangan dapat memiliki beberapa fungsi. Cara tersebut dianggap cocok dengan hunian yang memiliki keterbatasan ruang, terutama di kawasan perkotaan Jepang.
Budaya dan Kebiasaan
Popularitas futon juga tidak terlepas dari sejarah dan budaya masyarakat Jepang. Penggunaan alas tidur tradisional telah berkembang sejak berabad-abad lalu dan kemudian menjadi bagian dari kehidupan rumah tangga.
Kebiasaan menggelar futon sebelum tidur dan merapikannya kembali setelah bangun juga membuat perlengkapan ini memiliki fungsi lebih dari sekadar tempat tidur.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari yang masih dapat ditemukan meskipun ranjang bergaya Barat kini semakin banyak digunakan.
Futon juga erat kaitannya dengan tatami, yaitu tikar tradisional Jepang yang digunakan sebagai permukaan lantai.
Shikibuton dapat langsung digelar di atas tatami sebagai alas tidur. Tatami memberikan sedikit bantalan sekaligus membantu mengatur kelembapan.
Praktis untuk Disimpan
Selain menghemat tempat, futon juga mudah dipindahkan dan disimpan. Ketika tidak digunakan, perlengkapan tidur ini dapat dilipat dan dimasukkan ke tempat penyimpanan.
Kepraktisan ini juga berguna ketika ada tamu yang menginap. Pemilik rumah dapat mengeluarkan futon tambahan tanpa harus menyediakan ranjang permanen.
Meski begitu, futon yang diletakkan langsung di lantai membutuhkan perawatan. Futon perlu diangin-anginkan secara berkala untuk mengurangi kelembapan.
Di Jepang, futon bahkan kerap dijemur di bawah sinar matahari pada hari yang cerah agar tetap kering dan segar.
Bukan Sekadar Tempat Tidur
Keberadaan futon menunjukkan bagaimana sebuah perlengkapan sederhana dapat berkaitan dengan cara masyarakat Jepang menggunakan ruang dan mempertahankan kebiasaan tradisional.
Kemampuannya untuk digelar, dilipat, dan disimpan membuat satu ruangan bisa digunakan untuk berbagai aktivitas.
Tak heran jika futon masih dapat ditemukan, terutama di rumah atau penginapan tradisional seperti ryokan, meskipun ranjang bergaya Barat juga semakin umum digunakan.






