Tren bersepeda ke tempat kerja atau bike to work menjadi salah satu cara untuk tetap aktif di tengah rutinitas sehari-hari.
Alih-alih hanya menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi, aktivitas tersebut sekaligus bisa menjadi kesempatan untuk berolahraga.
Bersepeda termasuk aktivitas fisik yang melibatkan berbagai kelompok otot dan membuat jantung bekerja lebih aktif.
Menjaga Kesehatan Jantung
Penelitian dari British Journal of Sports Medicine pada 2019 menganalisis 21 penelitian dengan lebih dari 1 juta orang. Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas bersepeda berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular.
Saat mengayuh sepeda, detak jantung meningkat sehingga tubuh berlatih menggunakan oksigen secara lebih efisien. Aktivitas ini juga dapat membantu menjaga kebugaran tubuh dan kesehatan jantung.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bersepeda, termasuk sebagai aktivitas transportasi, dapat menjadi salah satu bentuk aktivitas fisik yang mendukung kesehatan kardiovaskular.
Menjaga Kebugaran Tubuh
Bersepeda juga membuat tubuh tetap aktif selama perjalanan. Gerakan mengayuh terutama melibatkan otot kaki, seperti paha dan betis.
Ketika dilakukan secara rutin, aktivitas ini dapat membantu melatih kekuatan dan daya tahan otot sekaligus meningkatkan kebugaran fisik.
Selain itu, bersepeda dapat menjadi pilihan bagi orang yang ingin meningkatkan aktivitas fisik tanpa harus selalu melakukan olahraga dengan intensitas tinggi. Durasi dan intensitasnya dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orang.
Cara Praktis Aktif
Salah satu keuntungan bike to work adalah aktivitas fisik dapat dilakukan sekaligus dalam perjalanan. Dengan begitu, seseorang tidak selalu harus menyediakan waktu terpisah untuk berolahraga.
Bersepeda menuju kantor juga dapat menjadi alternatif bagi orang yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk selama perjalanan maupun bekerja.
Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu seseorang mencapai pola hidup yang lebih aktif. Namun, manfaat tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Tetap Berhati-Hati
Melansir dari laman Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, pengalaman seorang pasien berusia 45 tahun yang mengalami serangan jantung setelah sebelumnya rutin bersepeda.
Ini menunjukkan bahwa kebiasaan berolahraga tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari risiko penyakit jantung.
Pasien tersebut sebelumnya mengaku rutin bersepeda dengan jarak jauh. Ia bahkan tidak menganggap serius nyeri dada yang muncul ketika beraktivitas hingga keluhannya semakin berat saat berolahraga.
Setelah diperiksa, pasien diketahui mengalami serangan jantung dan kemudian menjalani tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Karena itu, tubuh tetap perlu diperhatikan ketika melakukan olahraga.
Sesuaikan Intensitas
Bersepeda pada dasarnya merupakan aktivitas fisik yang bermanfaat, tetapi intensitasnya perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh. Tidak semua orang perlu mengejar jarak jauh atau kecepatan tinggi untuk mendapatkan manfaat dari bersepeda.
Bagi orang yang baru mulai, aktivitas dapat dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan respons tubuh. Sementara itu, orang dengan tekanan darah tinggi atau kondisi kesehatan tertentu, pastikan kondisinya terkontrol dan berkonsultasi dengan dokter.
Dengan begitu, bike to work bukan hanya menjadi tren, tetapi dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup aktif yang dilakukan secara aman dan berkelanjutan.






