Belakangan di media sosial lagi ramai mengenai istilah “pubertas kedua“. Istilah ini biasa dilekatkan untuk pria dewasa yang tiba-tiba melakukan manuver dalam kehidupannya, bisa dari merubah penampilan, hobi, pekerjaan, hingga hubungan.

Namun, benarkah pria yang mengalami perubahan tersebut sedang memasuki “pubertas kedua”?

Psikolog Klinis Meity Arianty menjelaskan istilah “pubertas kedua” sebenarnya bukan istilah psikologis maupun diagnosis klinis.

Istilah ini sebenarnya lebih banyak digunakan secara populer untuk menggambarkan fase ketika seseorang mulai mengevaluasi kembali kehidupan yang dijalaninya.

Dalam psikologi perkembangan, kondisi ini dapat dikaitkan dengan midlife transition atau masa transisi pada usia dewasa madya.

Pada fase ini, seseorang dapat mulai mempertanyakan berbagai hal dalam hidupnya, seperti mengenai pencapaian, pekerjaan, hubungan, hingga tujuan hidup yang ingin dicapai.

Meity mengungkap biasannya dalam proses evaluasi  ini seseorang jadi bertanya-tanya mengenai “saya mau hidup seperti apa? Sekarang apakah yang mau saya capai, apakah saya sudah hidup bahagia?”

Ia menegaskan, munculnya pertanyaan semacam itu tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami krisis. Sebaliknya, proses tersebut dapat menjadi bagian normal dari perkembangan psikologis orang dewasa.

Seseorang bisa saja merespons fase ini dengan cara yang positif, seperti mengevaluasi karier, memperbaiki hubungan dengan pasangan, mencari hobi baru, kembali belajar, atau membangun tujuan hidup yang lebih sesuai dengan dirinya.

Namun, pada sebagian orang, keinginan untuk merasa “hidup kembali” juga dapat muncul melalui perubahan perilaku yang lebih impulsif, seperti mencari hubungan romantis baru, mengejar pengakuan, mengubah penampilan secara ekstrem, hingga mengambil keputusan besar secara tiba-tiba.

Pubertas Kedua

Meski demikian, Meity tidak membenarkan perilaku tersebut disebabkan oleh “pubertas kedua”.

Menurutnya, hal yang lebih penting untuk dilihat bukanlah label tersebut, melainkan kebutuhan psikologis yang berada di balik perubahan perilaku seseorang.

Karena itu, pria yang tiba-tiba ingin mengubah gaya hidup atau mencoba hal baru tidak selalu sedang mengalami krisis.

Perubahan tersebut justru dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kembali diri sendiri, menentukan hal yang dianggap penting, serta menata kehidupan agar lebih sesuai dengan fase yang sedang dijalani.

Namun, perubahan mulai perlu diperhatikan apabila disertai perilaku yang sangat impulsif, konflik berat dengan pasangan atau keluarga, keputusan besar secara tiba-tiba, kehilangan kontrol terhadap perilaku, atau sudah mengganggu pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.