Sejarawan Indonesia Anhar Gonggong mengingatkan pentingnya pembelajaran sejarah di sekolah agar generasi muda bisa memahami peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 secara lebih utuh.

Menurut Anhar, perkembangan media sosial seperti TikTok tak seharusnya membuat generasi muda menjadikan platform tersebut sebagai sumber utama untuk mempelajari sejarah. Pasalnya, siapa pun dapat menyampaikan informasi di media sosial tanpa selalu disertai sumber yang jelas.

Saya justru khawatir kalau mereka enggak mendapatkan informasi dari sekolah juga enggak cukup, dari TikTok apalagi, dari segala macam informasi, ya informasi ya biasa aja, tidak ada yang pas, dan sebagainya. Cuma ya G30S PKI. Titik,”

kata Anhar kepada Owrite, Rabu, 30 September 2026.

Anhar menilai sekolah tetap punya peran penting dalam memberikan dasar pemahaman sejarah. Melalui pembelajaran di sekolah, siswa bisa peroleh informasi berdasarkan sumber dan bahan bacaan yang lebih terarah.

Dia menyampaikan pemahaman mengenai G30S tak cukup dibangun hanya dari potongan informasi yang beredar di media sosial.

Yang lebih penting pelajaran sekolah. Kalau di sosmed kan semua orang bisa memberikan informasi sesuai dengan apa yang dia inginkan,”

ujarnya.

Literasi Membaca

Selain pembelajaran di sekolah, Anhar menekankan pentingnya membaca buku dan mengetahui sumber yang digunakan dalam mempelajari suatu peristiwa sejarah.

Menurut dia, mahasiswa, khususnya mahasiswa sejarah, perlu memahami bahan bacaan yang diberikan dalam proses pembelajaran. Hal itu penting agar pemahaman terhadap suatu peristiwa tak hanya berasal dari informasi yang beredar secara luas tanpa mengetahui sumbernya.

Harus membaca bukunya. Tapi, sumber utamanya kalau dia mahasiswa misalnya, mahasiswa sejarah, pertanyaannya dosennya memberikan apa. Buku apa yang disuruh baca?”

katanya.

Anhar juga mengingatkan bahwa peristiwa G30S masih memiliki beragam tafsiran. Karena itu, generasi muda perlu memahami sebuah peristiwa sejarah bisa dilihat melalui perspektif yang berbeda berdasarkan sumber dan interpretasi yang digunakan.

Salah satu contoh yang disinggung Anhar adalah film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer. Film tersebut selama ini menjadi salah satu sumber populer bagi masyarakat dalam mengenal peristiwa G30S.

Menurut Anhar, film tersebut tetap dapat digunakan sebagai sarana untuk mengenalkan sejarah. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa film merupakan sebuah interpretasi terhadap sumber-sumber yang digunakan dalam proses pembuatannya.

Memang seperti G30S yang sekarang masih kontroversi. Ada yang mengatakan, ‘Ah, itu kan cuma permainan Soeharto.’ Ya tergantung orang memandangnya,”

ujar Anhar.

Fakta dan Tafsiran Sejarah

Anhar menjelaskan bahwa film Pengkhianatan G30S/PKI dibuat berdasarkan bahan yang diperoleh dari sejumlah pihak, termasuk sejarawan Nugroho Notosusanto dan timnya serta pihak Pusat Sejarah TNI.

Karena itu, menurut Anhar, penting untuk membedakan antara fakta mengenai suatu peristiwa dengan tafsiran terhadap fakta tersebut.

Ia menyampaikan perbedaan tafsir merupakan bagian dari proses memahami sejarah. Generasi muda, kata dia, perlu mendapatkan sumber pembelajaran yang memadai agar tidak memahami G30S hanya berdasarkan satu versi informasi.

Apa yang ada dalam film itu adalah tafsiran yang diberikan oleh sutradaranya berdasarkan sumber-sumber yang diperoleh,”

ujar Anhar.