Ayam kampung selama ini kerap dianggap lebih sehat dibandingkan ayam broiler. Dagingnya dikenal lebih kenyal dan gurih, sementara harganya cenderung lebih mahal.

Namun, ayam broiler atau ayam ras pedaging justru lebih sering jadi pilihan masyarakat. Di pasar, supermarket, hingga pusat belanja kebutuhan pokok, ayam broiler mudah ditemukan dan harganya relatif terjangkau.

Selain itu, dagingnya dinilai lebih empuk dengan porsi yang lebih banyak dibandingkan ayam kampung.

Perbedaan karakteristik dan harga tersebut membuat ayam broiler tetap jadi pilihan utama banyak konsumen.

Lantas, apakah anggapan bahwa ayam kampung lebih sehat daripada ayam broiler memang benar?

Ayam Kampung vs Ayam Broiler, Apa Bedanya?

Sebenarnya perbedaan keduanya bukan hanya soal harga. Melainkan juga dari cara ayam dibesarkan, pertumbuhan, aktivitas, hingga karakter dagingnya yang ikut memengaruhi kualitasnya.

Ayam broiler memang dikembangkan khusus untuk menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat. Sebaliknya, ayam kampung memiliki pertumbuhan yang lebih lambat dan karakter tubuh yang berbeda.

Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dikutip pada Kamis, 1 Oktober 2026, menyebut ayam kampung punya perlemakan yang lebih rendah dibandingkan ayam broiler. Namun, kualitas daging tetap bisa berbeda tergantung umur, pakan, genetik, dan sistem pemeliharaan.

Lebih Rendah Lemak

Salah satu alasan ayam kampung sering dianggap lebih sehat adalah kandungan lemaknya.

Penelitian IPB mengenai kualitas karkas dan sifat fisik daging ayam menemukan bahwa ayam kampung dikenal memiliki perlemakan yang lebih rendah dibandingkan ayam broiler. Pertumbuhannya yang lebih lambat juga membuat karakter dagingnya berbeda.

Meski begitu, bukan berarti ayam broiler tak sehat. Daging ayam tetap menjadi sumber protein hewani yang mengandung asam amino esensial.

Penelitian IPB lainnya juga menunjukkan bahwa daging ayam, baik ayam kampung maupun broiler, merupakan sumber protein dengan komposisi asam amino yang penting bagi tubuh.

Kalau pernah makan ayam kampung dan broiler, perbedaan teksturnya mungkin langsung terasa.

Ayam kampung cenderung memiliki daging yang lebih padat dan kenyal. Sementara itu, ayam broiler terkenal dengan teksturnya yang lebih empuk dan juicy.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan pertumbuhan dan karakter otot kedua jenis ayam. Ayam broiler memang dikembangkan untuk pertumbuhan yang cepat dan produksi daging, sedangkan ayam kampung tumbuh lebih lambat.

Makanya, ayam kampung sering terasa lebih cocok untuk hidangan yang dimasak cukup lama seperti sup atau opor.

Jangan sampai muncul anggapan bahwa hanya ayam kampung yang mengandung protein.

Baik ayam kampung maupun ayam broiler sama-sama bisa jadi sumber protein hewani. Protein dari daging ayam mengandung asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi, termasuk pemeliharaan dan perbaikan jaringan.

Jadi, kalau tujuanmu sekadar mendapatkan asupan protein, ayam broiler bukan berarti otomatis menjadi pilihan yang buruk.

Yang lebih penting adalah memperhatikan bagian ayam yang dikonsumsi, porsinya, serta cara memasaknya.

Cara Memasak

Ini bagian yang sering terlupakan. Ayam kampung bisa saja memiliki karakter daging yang lebih rendah lemak. Namun, kalau dimasak dengan banyak minyak, santan, atau kulitnya dikonsumsi dalam jumlah besar, profil makanannya tentu akan ikut berubah.

Begitu juga dengan ayam broiler. Daging ayam yang dimasak dengan cara sederhana tentu berbeda dengan ayam yang digoreng crispy lengkap dengan tepung dan minyak dalam jumlah banyak.

Artinya, jenis ayam bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah sebuah menu bisa disebut lebih sehat.

Anggapan bahwa ayam broiler pasti menggunakan hormon untuk mempercepat pertumbuhan juga perlu dilihat lebih hati-hati.

Ayam broiler memang memiliki pertumbuhan yang sangat cepat karena faktor genetik dan sistem pemeliharaan yang dirancang untuk produksi daging. Penelitian IPB menjelaskan broiler memiliki keunggulan genetik dalam pertumbuhan dan keempukan daging.

Jadi, pertumbuhan cepat tidak otomatis berarti ayam tersebut diberi hormon.

Kualitas dan keamanan daging lebih tepat dilihat dari bagaimana ayam dipelihara, jenis pakan yang diberikan, penggunaan obat-obatan sesuai aturan, serta proses penyembelihan dan pengolahan daging.

Jadi, ayam kampung memiliki sejumlah karakter yang membuatnya menarik dari sisi nutrisi. Salah satunya kecenderungan perlemakan yang lebih rendah.

Namun, ayam broiler juga tetap merupakan sumber protein hewani dan dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang. Nah, pilihan ayam sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan cara pengolahannya.

Kalau mencari daging dengan tekstur lebih padat dan cenderung lebih rendah lemak, ayam kampung bisa menjadi salah satu pilihan. Sementara kalau mengutamakan harga terjangkau, daging empuk, dan mudah ditemukan, ayam broiler tetap bisa dikonsumsi.

Jadi, jangan cuma melihat label ‘kampung’ atau ‘broiler’. Isi piring secara keseluruhan, porsi, bagian ayam yang dipilih, serta cara memasaknya juga punya peran besar dalam menentukan seberapa sehat makanan yang kita konsumsi.