Tangisan keras, teriakan, tubuh yang berguling di lantai hingga keinginan untuk melempar atau memukul sesuatu sering menjadi situasi yang membuat orang tua kewalahan.

Ketika anak sulit mengendalikan emosinya, orang tua pun dapat ikut terpancing dan membalas dengan bentakan.

Padahal, menghadapi tantrum dengan kemarahan justru dapat membuat suasana semakin sulit dikendalikan. Tantrum merupakan bagian dari perkembangan emosi anak, terutama ketika mereka belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menyampaikan rasa kecewa, marah, atau keinginannya melalui kata-kata.

Karena itu, orang tua perlu membantu anak melewati ledakan emosinya tanpa ikut terbawa emosi. Lantas, apa yang bisa dilakukan ketika anak sedang tantrum? Melansir dari laman Kementrian Kesehatan RI pada 28 Juli 2022, berikut penjelasannya.

Tempat yang Aman

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan anak berada di lingkungan yang aman. Jauhkan benda tajam, benda yang mudah pecah, atau benda lain yang dapat digunakan untuk melukai diri sendiri maupun orang lain.

Jika tantrum terjadi di tempat umum, orang tua dapat membawa anak ke area yang lebih tenang selama memungkinkan.

Anak tetap perlu diawasi, tetapi tidak harus terus-menerus dipaksa untuk berhenti menangis atau berbicara ketika emosinya sedang memuncak.

Pada kondisi tersebut, keselamatan menjadi prioritas sebelum mencoba memberikan nasihat atau menjelaskan aturan kepada anak.

Jangan Membalas Teriakan

Ketika anak berteriak, orang tua mungkin terdorong untuk membentak agar anak segera diam. Namun, respons tersebut justru dapat membuat situasi semakin tegang.

Orang tua dapat menggunakan suara yang lebih tenang dan kalimat yang singkat. Tidak perlu memberikan penjelasan panjang ketika anak masih menangis atau berteriak karena kemungkinan besar anak belum mampu menerima banyak informasi.

Sikap tenang dari orang tua juga dapat membantu menunjukkan kepada anak bagaimana emosi dapat dikelola tanpa harus berteriak atau melakukan tindakan agresif.

Validasi Perasaannya

Memvalidasi perasaan anak bukan berarti orang tua harus memenuhi semua keinginannya. Orang tua dapat mengakui emosi yang sedang dirasakan anak sekaligus tetap mempertahankan batasan.

Misalnya, ketika anak menangis karena tidak diperbolehkan bermain lebih lama, orang tua dapat mengatakan, “Kamu kecewa karena masih ingin bermain, ya. Tapi sekarang waktunya pulang.”

Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa perasaan anak dipahami, tetapi aturan tetap berlaku. Dengan begitu, anak perlahan belajar bahwa merasa marah atau kecewa merupakan hal yang wajar, tetapi bukan berarti semua keinginannya harus dipenuhi.

Berikan Waktu Menenangkan Diri

Tidak semua anak dapat langsung berhenti menangis setelah diajak berbicara. Ketika emosinya masih tinggi, orang tua dapat memberikan waktu kepada anak untuk menenangkan diri selama tetap berada dalam pengawasan.

Orang tua dapat tetap berada di dekat anak dan memberikan dukungan tanpa memaksanya segera berhenti menangis. Setelah anak mulai lebih tenang, barulah orang tua dapat mengajak berbicara mengenai apa yang terjadi.

Pada tahap ini, anak akan lebih siap mendengarkan penjelasan dan belajar mengenali apa yang sebenarnya ia rasakan.

Kenali Pemicu Tantrum

Tantrum tidak selalu muncul karena anak menginginkan sesuatu. Kondisi seperti lapar, lelah, kurang tidur, merasa tidak nyaman, perubahan rutinitas, terlalu banyak stimulasi, atau kesulitan menyampaikan keinginan juga dapat menjadi pemicunya.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kapan dan dalam situasi apa tantrum biasanya terjadi. Misalnya, anak lebih mudah rewel ketika melewatkan waktu makan atau ketika harus berhenti bermain secara tiba-tiba.

Mengenali pola tersebut dapat membantu orang tua melakukan pencegahan sebelum emosi anak kembali memuncak.

Ajarkan Cara Mengungkapkan Emosi

Setelah anak sudah tenang, orang tua dapat mengajaknya membicarakan apa yang terjadi. Anak bisa dibantu mengenali emosinya, misalnya dengan mengatakan, “Tadi kamu marah karena ingin main lebih lama.”

Orang tua juga dapat mengajarkan cara menyampaikan keinginan dengan kata-kata, seperti meminta bantuan, mengatakan tidak suka, atau mengungkapkan rasa kecewa.

Semakin sering anak belajar mengenali dan menyampaikan emosinya, semakin banyak pilihan yang dapat digunakan selain menangis, berteriak, atau melempar barang.

Berikan Pujian

Jangan hanya memberikan perhatian ketika anak tantrum. Orang tua juga perlu memberikan apresiasi ketika anak berhasil menyampaikan keinginan dengan baik atau mulai mampu menenangkan dirinya.

Pujian sederhana seperti, “Tadi kamu bisa bilang kalau kamu kecewa tanpa berteriak. Mama senang,” dapat membantu anak memahami perilaku yang diharapkan. Dengan begitu, anak belajar bahwa mendapatkan perhatian dan apresiasi tidak harus dilakukan melalui tantrum.

Tantrum memang tidak selalu dapat dicegah. Namun, orang tua dapat membantu anak belajar melewati emosi tersebut. Yang terpenting, jangan sampai tantrum anak membuat orang tua ikut kehilangan kendali.