Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Night Terror pada Anak, Gangguan Tidur yang Bisa Dipicu Kelelahan dan Overstimulasi

Fenomena anak berteriak histeris, menangis, atau tampak sangat ketakutan saat tidur kerap membuat orang tua panik.

Ilustrasi anak menangis (Foto: Unsplash/Artem Nedzelskiy)
Ilustrasi anak menangis (Foto: Unsplash/Artem Nedzelskiy)

Fenomena anak berteriak histeris, menangis, atau tampak sangat ketakutan saat tidur kerap membuat orang tua panik.

Meski terlihat seperti mengalami mimpi buruk, kondisi tersebut bisa menjadi tanda night terror, yaitu gangguan tidur yang membuat anak menunjukkan respons ketakutan intens tanpa sepenuhnya terbangun.

Belakangan, istilah night terror ramai diperbincangkan di masyarakat dan media sosial. Kondisi ini perlu dipahami agar orang tua tidak keliru dalam menyikapi perilaku anak saat tidur.

Iklan

Salah satu faktor yang dapat memicu night terror adalah kurang tidur. Selain itu, kelelahan dan aktivitas yang terlalu padat juga dapat mengganggu kualitas tidur anak.

Mengenal Night Terror

dr. Yeni Quinta Mondiani, dosen Fakultas Kedokteran Universitas IPB, menjelaskan bahwa tidur merupakan fungsi biologis penting yang berperan dalam pemulihan fisik dan perkembangan sistem saraf anak.

Secara normal, tidur terdiri atas fase non-rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM). Night terror atau sleep terror termasuk kelompok parasomnia, yakni gangguan tidur yang terjadi ketika seseorang mengalami kondisi bangun parsial dari fase tidur NREM.

Sleep terror atau night terror umumnya muncul pada sepertiga awal malam, sekitar 60–90 menit setelah anak tertidur,”

jelas Yeni.

Cirinya pada Anak

Saat mengalami episode ini, anak dapat berteriak, menangis, tampak ketakutan, gelisah, berkeringat, serta mengalami peningkatan detak jantung dan frekuensi napas.

Anak juga biasanya sulit dibangunkan dan tidak merespons ketika orang tua berusaha menenangkannya.

Setelah episode berakhir, anak mungkin tampak bingung sesaat sebelum kembali tidur. Pada pagi harinya, sebagian besar anak tidak mengingat kejadian tersebut.

Overstimulasi dan Kelelahan

Pada anak, overstimulasi dapat muncul setelah bermain terlalu lama, berada di lingkungan yang bising, menggunakan perangkat elektronik menjelang tidur, atau menjalani aktivitas yang membuatnya terlalu bersemangat.

Meski overstimulasi tidak selalu menyebabkan night terror, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kesulitan tidur dan kelelahan. Sementara itu, kurang tidur merupakan salah satu faktor pencetus night terror yang telah dikenal.

Anak yang terlalu lelah justru lebih berisiko mengalami episode ini. Karena itu, menjaga kecukupan dan kualitas tidur menjadi kunci utama,”

kata Yeni.

Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan keseimbangan antara aktivitas anak dan waktu istirahatnya. Rutinitas yang teratur dapat membantu anak lebih siap memasuki waktu tidur dan mengurangi risiko gangguan tidur yang dipicu kelelahan.

Bedanya dengan Mimpi Buruk

Night terror kerap disalahartikan sebagai mimpi buruk karena sama-sama dapat membuat anak menangis atau tampak ketakutan ketika tidur. Padahal, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

Mimpi buruk umumnya terjadi pada fase tidur REM. Anak biasanya terbangun, dapat menceritakan mimpi yang menakutkan, dan mungkin mencari kenyamanan dari orang tua.

Sebaliknya, night terror lebih sering terjadi pada fase tidur NREM. Anak dapat berteriak, meronta, atau tampak panik meskipun belum benar-benar terbangun. Anak juga umumnya tidak mengingat kejadian tersebut setelah bangun pada pagi hari.

Cara Menghadapi

Ketika anak berteriak atau tampak ketakutan saat tidur, orang tua perlu tetap tenang. Menurut dr. Yeni, anak tidak sebaiknya dibangunkan secara paksa karena tindakan tersebut dapat membuatnya semakin bingung atau gelisah. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua:

  • Pastikan lingkungan tidur aman. Jauhkan benda tajam atau benda lain yang berisiko menyebabkan cedera jika anak bergerak atau meronta.
  • Jangan memaksa anak terbangun. Dampingi dari dekat dan tunggu hingga episode berakhir sambil memastikan anak tetap aman.
  • Atur rutinitas tidur. Biasakan waktu tidur dan bangun yang konsisten sesuai kebutuhan usia anak.
  • Kurangi aktivitas yang terlalu merangsang menjelang tidur. Berikan waktu untuk menenangkan diri setelah bermain, berolahraga, atau menggunakan perangkat elektronik.
  • Catat kejadian yang berulang. Orang tua dapat mencatat waktu kejadian, durasi, dan perilaku anak. Jika diperlukan, rekaman kejadian dapat digunakan sebagai bahan konsultasi medis.

Pada kebanyakan kasus, night terror tidak berbahaya dan tidak membutuhkan pengobatan khusus apabila hanya terjadi sesekali. Kondisi ini juga dapat membaik seiring perkembangan dan pematangan sistem saraf anak.

Orang tua perlu memahami gejalanya, menjaga keamanan anak selama episode berlangsung, serta memastikan kebutuhan tidur terpenuhi.

Dengan rutinitas istirahat yang baik dan pengamatan yang tepat, gangguan ini dapat ditangani secara lebih tenang dan rasional.

Iklan