Pemikiran mengenai fenomena ini pernah dibahas filsuf Indonesia, Tan Malaka dalam bukunya, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Dalam buku itu, Tan Malaka menguraikan tiga tahapan perkembangan cara berpikir manusia yakni logika mistika, filsafat, dan ilmu pengetahuan.
Ketiga tahapan itu menggambarkan perjalanan manusia dalam memahami dunia. Mulai dari menjelaskan berbagai kejadian melalui kekuatan gaib, beralih pada penggunaan penalaran filosofis, hingga mencari jawaban berdasarkan metode ilmiah dan bukti yang dapat diuji.
Logika Mistika
Mengutip dari Channel YouTube Edutektif, Selasa, 13 Oktober 2026, logika mistika merupakan cara berpikir yang menjelaskan berbagai peristiwa melalui kekuatan gaib atau hal-hal supranatural. Hal itu seperti orang yang mendadak kaya langsung dicurigai sebagai pelaku pesugihan hingga orang yang sakit dikaitkan dengan santet.
Namun, bukan berarti kepercayaan terhadap hal mistis itu salah. Sebab, bisa saja orang menerima penjelasan tersebut sebagai satu-satunya kebenaran tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain.
Akibatnya, seseorang bisa berhenti mencari tahu penyebab sebenarnya. Padahal, sikap kritis diperlukan agar kita tidak mudah menuduh, terjebak informasi keliru, atau mengabaikan persoalan yang membutuhkan penanganan nyata.
Filsafat
Tahap berikutnya adalah filsafat, ketika manusia mulai mempertanyakan sesuatu dan tidak langsung menerima penjelasan yang diberikan.
Alih-alih percaya bahwa tetangga mendadak kaya karena pesugihan, orang akan mulai bertanya dari mana penghasilannya berasal? Apakah ia memiliki usaha, investasi, atau sumber pendapatan lain?
Pertanyaan kecil ini sudah menunjukkan perubahan pola pikir seseorang, dalam artian manusia mulai menggunakan akal untuk mencari alasan di balik suatu peristiwa.
Dalam tahap ini, seseorang belajar menyusun argumen, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan menguji apakah suatu penjelasan masuk akal.
Namun, mempertanyakan sesuatu saja belum cukup. Sebuah dugaan yang terdengar logis tetap perlu diperiksa agar tidak berubah menjadi asumsi baru yang sama-sama keliru.
Ilmu Pengetahuan
Tahap ketiga adalah ilmu pengetahuan atau sains. Pada tahap ini, manusia tidak hanya bertanya dan menyusun dugaan, tetapi juga berusaha mengujinya melalui pengamatan, penelitian, dan bukti yang dapat diperiksa.
Contohnya, ketika seseorang mengalami gangguan penglihatan atau mendengar suara yang tidak didengar orang lain, dia tidak langsung mengklaim dirinya sebagai orang yang punya indra ke enam. Tapi langsung menelusuri kondisi tersebut melalui pemeriksaan tenaga kesehatan.
Sains bukan berarti selalu memiliki jawaban instan untuk semua hal. Justru, ilmu pengetahuan mengakui keterbatasan dan membuka ruang untuk memperbaiki kesimpulan ketika ditemukan bukti baru.
Tiga tahap berpikir manusia menurut Tan Malaka mengajak kita melihat kembali cara memahami berbagai kejadian dalam kehidupan sehari-hari.
Kita boleh memiliki kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Namun, ketika berhadapan dengan persoalan nyata, penting untuk tetap membuka ruang bagi pertanyaan, penalaran, dan bukti.
Sebab, masalahnya bukan sekadar percaya pada hal mistis, melainkan kebiasaan berhenti mencari jawaban setelah menemukan penjelasan yang terasa paling mudah.
Di era ketika teknologi berkembang begitu cepat, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Jangan sampai dunia sudah melangkah jauh, tetapi cara kita memahami persoalan masih berhenti pada dugaan tanpa mau mencari tahu kebenarannya.