Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Gen Z Disebut Gampang Burnout dan Sensitif, Benarkah Generasi Dulu Lebih Tangguh?

Gen Z dinilai memiliki penampilan menarik dan kreatif tapi kurang tangguh saat menghadapi tekanan atau masalah.

Ilustrasi gen Z bersama orangtuanya.
Ilustrasi gen Z bersama orangtuanya. (Pexels/Polina Zimmerman).

Generasi Z (Gen Z) kerap dijuluki sebagai generasi stroberi. Istilah ini merujuk pada anak muda yang dinilai memiliki penampilan menarik dan kreatif tapi kurang tangguh saat menghadapi tekanan atau masalah.

Di media sosial, anggapan tersebut sering muncul dalam perbincangan lintas generasi. Gen Z kerap dicap mudah stres, rentan mengalami masalah kesehatan mental, sensitif terhadap kritik, mudah menyerah, hingga dianggap tak mampu menghadapi tekanan hidup.

Label ini biasanya disematkan kepada anak muda yang mengeluhkan beban pekerjaan berlebihan. Gen Z merasa tertekan oleh tuntutan hidup atau memilih meninggalkan lingkungan kerja yang dinilai toxic.

Iklan

Namun, benarkah Gen Z lebih lemah daripada generasi yang lahir sebelum mereka? Atau, jangan-jangan generasi terdahulu juga mengalami tekanan serupa. Namun, mereka tak berani untuk speak up?

Menurut konten kreator TikTok @mataharijinggaaja, generasi terdahulu mulai dari baby boomers, Generasi X, hingga milenial, sebenarnya pernah mengalami mental health. Bedanya, istilah-istilah kesehatan mental seperti burnout, kecemasan, depresi, hingga gangguan kepribadian tak sepopuler sekarang.

Jadi, jangan mengabaikan kebutuhan kesehatan jiwa dari anak-anak kita atau adik-adik kita yang lebih junior. Kita yang lebih tua ini harusnya lebih bisa membantu mereka, bukannya justru menghakimi,”

ujar akun TikTok @mataharijinggaaja pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Lantas, apa penyebab Gen Z sering dicap sebagai generasi yang lemah?

Gen Z Lebih Terbuka

Salah satu hal yang membedakan Gen Z dengan generasi sebelumnya adalah keterbukaan mereka dalam membicarakan kesehatan mental. Ditambah adanya media sosial yang membuat informasi mengenai kesehatan mental jadi lebih mudah diakses.

Di generasi sebelumnya, mereka tak secara terbuka membicarakan mengenai tekanan emosi yang sedang mereka hadapi. Sebagian orang terbiasa menyimpan masalah sendiri karena menganggap kesedihan sebagai sesuatu yang harus ditahan atau persoalan pribadi yang tidak perlu diketahui orang lain.

Akibatnya, seseorang yang tetap bekerja, mengurus keluarga, atau menjalani rutinitasnya juga belum tentu benar-benar terbebas dari tekanan psikologis.

Rapuh atau Berani Bersuara?

Istilah generasi stroberi berasal dari metafora buah stroberi. Buah itu terlihat menarik tapi mudah memar ketika terkena tekanan.

Istilah ini kemudian digunakan untuk menggambarkan anak muda yang dianggap kurang tahan menghadapi kesulitan.

Padahal, berani mengakui kalau dirinya kelelahan atau bercerita tentang masalah bukan berarti seseorang tidak tangguh. Generasi sebelumnya pun bisa saja mengalami tekanan serupa, tetapi belum tentu terbiasa membicarakannya secara terbuka.

Meski demikian, keterbukaan terhadap kesehatan mental tetap perlu diimbangi kemampuan menghadapi kritik, mengelola emosi, dan menyelesaikan masalah.

Tekanan Hidup Gen Z

Setiap generasi tentu dihadapkan dengan tantangan yang beda-beda pula. Jika generasi terdahulu lebih sering menghadapi keterbatasan akses informasi dan teknologi, Gen Z justru tumbuh di tengah perkembangan digital yang membuat informasi datang tanpa henti.

Media sosial memungkinkan anak muda melihat pencapaian orang lain mulai dari karier, pendidikan, hubungan asmara, hingga gaya hidup tanpa henti. Pun, tanpa mereka sadari, kebiasaan membandingkan diri ini ternyata dapat memunculkan perasaan tertinggal atau insecure.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa lingkungan digital dapat membawa dampak positif sekaligus negatif terhadap kesejahteraan mental anak muda. Penggunaan media sosial yang bermasalah juga berkaitan dengan kesejahteraan mental dan sosial yang lebih rendah.

Selain itu, Gen Z juga harus menghadapi tuntutan pendidikan, persaingan kerja, dan ekspektasi sosial. Meski tantangan tersebut tidak sepenuhnya baru, cara Gen Z mengalami dan menghadapinya tentu juga akan berbeda dari generasi sebelumnya.

Karena itu, membandingkan ketahanan mental antargenerasi tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dan lingkungan masing-masing berisiko menghasilkan kesimpulan yang terlalu sederhana.

Anggapan bahwa generasi terdahulu lebih kuat sering muncul karena mereka terbiasa menghadapi kesulitan tanpa banyak mengeluh.

Namun, kemampuan bertahan dalam tekanan tidak selalu berarti seseorang terbebas dari dampak psikologis. Ada orang yang mampu menjalankan tanggung jawab sehari-hari sambil menyimpan masalah emosional yang tidak pernah dibicarakan.

Hal inilah yang disoroti oleh konten kreator TikTok @mataharijinggaaja. Menurutnya, generasi terdahulu juga berpotensi mengalami persoalan kesehatan mental, tetapi pemahaman dan kesadaran untuk mencari pertolongan belum tentu berkembang seperti sekarang.

Tapi, tidak tepat pula menyimpulkan bahwa seluruh generasi terdahulu mengabaikan kesehatan mental atau bahwa semua anak muda mengalami tekanan yang sama. Pengalaman setiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk keluarga, lingkungan, kondisi ekonomi, dan dukungan sosial.

Alih-alih mempertentangkan siapa yang paling kuat, perbedaan pengalaman antargenerasi seharusnya menjadi kesempatan untuk saling memahami.

Perlu Belajar Tangguh

Memahami kesehatan mental bukan berarti membenarkan setiap keputusan atau menganggap semua kesulitan sebagai gangguan psikologis. Gen Z tetap perlu belajar menghadapi kegagalan, menerima kritik, mengelola emosi, dan menyelesaikan persoalan secara bertahap.

Di sisi lain, generasi yang lebih tua juga perlu membedakan antara mendidik agar anak mandiri dan mengabaikan kesulitan yang sedang mereka alami.

WHO menekankan pentingnya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang mendukung kesehatan mental remaja. Keterampilan mengelola emosi, menyelesaikan masalah, serta membangun hubungan yang sehat juga menjadi bagian penting dari perkembangan mereka.

Artinya, membentuk generasi tangguh bukan sekadar menyuruh anak muda berhenti mengeluh atau meminta mereka menghadapi semua masalah sendirian. Ketahanan mental perlu dibangun melalui pengalaman, dukungan yang memadai, dan kesempatan untuk belajar dari kesalahan.

Jadi setiap generasi memiliki tantangan dan cara bertahan masing-masing. Daripada saling melabeli lemah, lebih baik membangun lingkungan yang mendukung anak muda untuk berkembang dan belajar menghadapi kehidupan.

Sebab, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa rapuh, melainkan mampu menghadapi masalah tanpa mengabaikan kesehatan diri sendiri.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Internship

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.