Namun, permintaan itu dapat protes dari seorang petugas perempuan yang mengaku kelelahan. Ia menyebut seluruh operator SPBU tersebut merupakan perempuan. Bahkan, ada petugas perempuan yang masih menyusui.
Dalam video yang beredar, pegawai itu menyampaikan keluhannya sambil menangis.
Saya bukan robot. Saya juga capek, Pak,”
ujarnya.
Alih-alih meredakan situasi, Wayan dengan nada tinggi justru meminta pegawai tersebut diam.
Diam kamu, pegawai kamu!”
kata Wayan.
Pegawai itu kemudian menegaskan bahwa dirinya juga memiliki hak untuk menyampaikan keluhan, terlebih ketika kondisi fisiknya sudah kelelahan.
Iya saya pegawai. Tapi, saya punya hak, kecapekan Pak. Bapak nggak kasihan sama kita. Coba bapak di sini, di lapangan gimana rasanya,”
ujarnya.
Perdebatan semakin memanas ketika Wayan kembali meminta agar pegawai tersebut diusir.
Heh, usir pegawai kamu tuh,”
ujar Wayan.
Respons Wayan itu kemudian jadi sorotan setelah videonya menyebar di media sosial. Persoalan yang awalnya berkaitan dengan kelangkaan BBM dan tuntutan operasional SPBU 24 jam itu pun berkembang jadi perdebatan tentang kondisi pekerja di lapangan.
Sejumlah netizen menyayangkan respons politikus PDIP itu terhadap pegawai yang mengaku kelelahan. Mereka menilai keluhan pekerja seharusnya didengarkan, bukan justru dibalas dengan bentakan.
Akun Instagram @dapoerwadaw_ bahkan mengaitkan kejadian tersebut dengan citra yang selama ini ditampilkan Wayan.
Parah lu pak, brati selama ini pencitraan doank kerjanya ya mmmm nirempati bgt,” .
tulis akun itu dengan geram
Sementara itu, akun @dwi_qi995 menyindir bahwa orang yang hidup berkecukupan belum tentu memahami kesulitan masyarakat kecil.
Orang kaya mana tau penderitaan orang susah,”
sindirnya.
Kritik serupa disampaikan akun @jeromepolin yang menyoroti cara Wayan berbicara kepada pegawai tersebut.
“Songong bgt kayak gajinya bukan dari rakyat aja,” sindir akun itu.
Ada pula netizen yang mengaku ikut merasa sesak saat melihat seorang perempuan dibentak di depan umum.
Di depan umum Lo padahal dan yg di bentak seorang perempuan nyeseknya nembus layar,”
komentar @itsnyyyyta26.
Akun @debiapriyanto93 juga mempertanyakan pendekatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional SPBU selama 24 jam. Menurutnya, penambahan tenaga kerja bisa menjadi salah satu alternatif.
Gk gitu caranya pak, cari tenaga lainkan bisa,jd biar gak 24 jam hadeh kelas gubenur loh kacau,”
ujarnya geram.
Viralnya video tersebut kemudian memantik perdebatan tentang penanganan kelangkaan BBM di Bali. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan akses bahan bakar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, tapi pekerja SPBU juga memiliki batas fisik dan membutuhkan waktu istirahat.
Membuka SPBU selama 24 jam mungkin bisa membantu memperpanjang waktu pelayanan. Namun, kebijakan itu tetap membutuhkan pengaturan jadwal kerja dan jumlah tenaga yang memadai agar beban operasional tidak bertumpu pada pekerja yang sama.
Sebab, persoalan kelangkaan BBM tak serta-merta selesai hanya dengan meminta SPBU terus beroperasi. Karena pompa bensin mungkin bisa dinyalakan selama 24 jam.
Namun, operatornya bukan mesin yang bisa terus bekerja tanpa istirahat. Mereka manusia yang juga bisa lelah dan berhak menyampaikan kondisi yang dialami di lapangan.
Hingga Jumat, 16 Oktober 2026 unggahan akun Instagram @merindink tersebut tercatat telah meraih sekitar 213 ribu likes, 34,9 ribu komentar, dan 29,9 ribu kali dibagikan.