Risiko yang lebih masuk akal berkaitan dengan kondisi batang rambut, gesekan dengan bantal, serta lingkungan kulit kepala yang lembap.
Lebih Rentan Patah
Dilansir dari laman Alodokter pada 18 Juli 2025, rambut yang basah memiliki sifat mekanis berbeda dibandingkan rambut kering.
Saat menyerap air, batang rambut mengalami perubahan struktur sehingga lebih mudah mengalami kerusakan akibat tarikan dan gesekan.
Dalam penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Trichology, kesehatan rambut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perlakuan fisik dan paparan bahan kimia.
Kebiasaan menggosok, menyisir secara kasar, atau memberikan tarikan pada rambut yang rentan dapat memperburuk kerusakan batang rambut.
Ketika tidur, kepala bergerak dan bergesekan dengan sarung bantal selama berjam-jam. Jika rambut masih basah, gesekan tersebut berpotensi membuat rambut lebih mudah kusut, patah, atau mengalami kerusakan pada lapisan pelindungnya.
Kulit Kepala Lembap
Tidur dengan rambut basah juga membuat kulit kepala dan bantal berada dalam kondisi lembap lebih lama. Kelembapan bukan berarti otomatis menyebabkan infeksi, tetapi kondisi hangat dan lembap dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme tertentu.
Salah satu masalah kulit kepala yang berkaitan dengan pertumbuhan jamur Malassezia adalah ketombe atau dermatitis seboroik. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti produksi sebum, respons peradangan kulit, dan karakteristik individu.
Artinya, tidur dengan rambut basah tidak bisa langsung dinyatakan sebagai penyebab ketombe. Namun, mengeringkan rambut dan menjaga kebersihan kulit kepala merupakan langkah yang masuk akal untuk membantu mengurangi kelembapan berlebih.
Menyebabkan Flu
Anggapan bahwa tidur dengan rambut basah dapat menyebabkan flu masih sering dipercaya. Padahal, flu disebabkan oleh infeksi virus influenza, bukan semata-mata karena rambut atau tubuh dalam keadaan basah.
Seseorang dapat tertular influenza ketika terpapar virus, misalnya melalui partikel pernapasan dari orang yang terinfeksi. Karena itu, tidur dengan rambut basah bukan penyebab langsung influenza.
Meski demikian, tidur dengan rambut basah bisa membuat sebagian orang merasa kedinginan atau tidak nyaman, terutama ketika berada di ruangan ber-AC. Jadi, mengeringkan rambut sebelum tidur tetap dapat membantu meningkatkan kenyamanan, meskipun bukan cara khusus untuk mencegah flu.
Keringkan Rambut dengan Benar
Kamu tidak harus selalu menggunakan pengering rambut bersuhu tinggi. Ada beberapa cara sederhana untuk mengurangi kelembapan rambut sebelum beristirahat. Caranya yaitu sebagai berikut:
1. Gunakan handuk dengan lembut. Tekan-tekan rambut menggunakan handuk berbahan lembut untuk menyerap air. Hindari menggosok rambut terlalu keras.
2. Biarkan rambut mengering terlebih dahulu. Jika memungkinkan, keramas lebih awal agar rambut memiliki cukup waktu untuk mengering secara alami.
3. Gunakan pengering rambut dengan suhu rendah atau sedang. Jaga jarak pengering dari rambut dan hindari paparan panas berlebihan dalam waktu lama.
4. Jangan mengikat rambut terlalu kencang. Rambut yang masih basah dan diikat kuat dapat mengalami tarikan yang menambah risiko kerusakan.
5. Pastikan kulit kepala tidak terus-menerus lembap. Perhatikan terutama area dekat akar rambut dan bagian belakang kepala yang cenderung lebih lama mengering.
Jika kamu memiliki rambut tebal atau panjang, proses pengeringan mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Karena itu, mengatur waktu keramas sebelum tidur bisa menjadi solusi sederhana.
Tidur dengan rambut basah bukan kebiasaan yang otomatis berbahaya bagi semua orang.
Namun, mengeringkan rambut sebelum tidur dapat membantu mengurangi gesekan pada rambut yang rentan, menjaga kenyamanan, dan membatasi kelembapan berkepanjangan di kulit kepala.
Jadi, kalau masih sempat, keringkan rambut terlebih dahulu sebelum beristirahat.