Ia menilai, Jamhari punya peran penting dalam membantu masyarakat Jepang memahami Islam serta kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia melalui program pertukaran dan interaksi langsung.
Salah satu program yang telah berjalan sejak 2004 adalah kunjungan pemimpin pesantren Indonesia ke Jepang.
Jamhari menyebut hampir 200 pemimpin pesantren dan pendidik telah mengikuti program tersebut untuk mengenal sistem pendidikan, budaya, dan kehidupan masyarakat Jepang.
Melalui kunjungan tersebut, para peserta berkesempatan mendatangi sekolah, mengunjungi kuil Shinto dan Buddha, serta berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Pengalaman ini diharapkan membantu para pemimpin pesantren memperluas wawasan sekaligus membangun pemahaman tentang kehidupan masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya berbeda.
Jamhari mengatakan upaya pertukaran perlu diperluas kepada generasi muda. Ia menyebut telah mengusulkan program kunjungan ke Jepang bagi kader muda partai politik dan pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari perguruan tinggi Islam.
Ia juga menyampaikan bahwa pengembangan pertukaran anak muda telah ditindaklanjuti melalui program JENESYS (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths) yakni program Pemerintah Jepang yang dikelola Japan International Cooperation Center (JICE).
Ueno mengatakan penguatan hubungan antar masyarakat merupakan salah satu bagian dari agenda Indonesia-Jepang menjelang peringatan 70 tahun hubungan diplomatik pada 2028.
Selain bidang ekonomi, politik, keamanan, dan budaya, kedua negara ingin menjaga hubungan yang telah terbangun melalui interaksi langsung masyarakatnya.