Sementara itu, 250 beasiswa lainnya didukung pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, rumah sakit, serta pihak swasta.
Penambahan program studi harus diikuti dengan pemetaan dan pemerataan tenaga medis serta peningkatan pelayanan kesehatan di daerah. Karena itu, program akselerasi ini perlu dilanjutkan dan diperkuat,”
kata Fauzan di Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Fauzan mengungkapkan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia sangat tinggi dan distribusi tenaga medisnya belum merata.
Akibatnya, masyarakat di sejumlah daerah masih harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh pelayanan dokter spesialis.
Persoalannya bukan hanya jumlah tenaga medis yang belum mencukupi, tetapi juga penyebarannya yang belum merata,”
ungkapnya.
Selain menyiapkan beasiswa dokter spesialis, pemerintah juga akan memperluas penempatan residen tingkat mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan daerah.
Hingga pertengahan 2026, terdapat 342 program dari 17 perguruan tinggi yang menempatkan sekitar 2.480 residen tingkat mandiri di 34 provinsi.
Pendidikan Dokter Spesialis
Pemerintah juga meningkatkan kapasitas pendidikan dokter spesialis dan subspesialis. Fauzan menyebut jumlah program studi pendidikan dokter spesialis meningkat dari 366 menjadi 551 program studi, melampaui target penambahan 148 program studi baru.
Di bidang pendidikan kedokteran gigi, pemerintah menargetkan pendirian Fakultas Kedokteran Gigi di setiap provinsi pada 2029.
Langkah ini ditujukan untuk memperluas akses pendidikan kedokteran gigi dan mendukung pemenuhan kebutuhan dokter gigi di berbagai daerah.
Karena itu, sesuai arahan Bapak Presiden, Kementerian Pendidikan telah mencanangkan percepatan pendirian Fakultas Kedokteran Gigi di setiap provinsi pada 2029,”
ujar Fauzan.
Pemerintah berharap penambahan kapasitas pendidikan dan program beasiswa dokter spesialis dapat memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan serta mengurangi kesenjangan tenaga medis antardaerah.