Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Aida S. Budiman, mengatakan pengakuan dunia terhadap modest fashion Indonesia harus diikuti dengan penguatan ekosistem industri secara menyeluruh.
Menurutnya, posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama tidak cukup hanya ditopang kreativitas desainer dan kekayaan wastra Nusantara. Kesiapan industri dari proses produksi hingga pemasaran juga menjadi faktor penting agar produk lokal mampu memenuhi kebutuhan pasar global.
“Modest fashion Indonesia telah mendapatkan pengakuan dunia. Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026, Indonesia menempati peringkat pertama dunia dalam sektor modest fashion, dengan prospek yang sangat besar,”
kata Aida dalam keterangan resmi yang diterima Owrite, Selasa, 3 November 2026.
Aida menilai, penguatan industri perlu dilakukan melalui pembangunan ekosistem modest fashion yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut mencakup pembinaan perajin wastra, peningkatan kualitas produk, edukasi tren fesyen, hingga perluasan akses pasar.
Bank Indonesia menjalankan penguatan sektor hulu melalui platform IKRA Indonesia yang membina perajin wastra dan pelaku usaha modest fashion di berbagai daerah. Pembinaan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas produk agar mampu mengikuti perkembangan tren dan kebutuhan konsumen.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan berupaya memperluas penetrasi produk lokal melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, termasuk Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dan Atase Perdagangan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah mendorong pelaku industri modest fashion memperluas pasar melalui kemitraan dengan jaringan ritel modern dan penjajakan bisnis ekspor.
“Kami mendorong pelaku industri modest fashion Indonesia memperluas pasar domestik dan internasional melalui kemitraan dengan jaringan ritel modern serta penjajakan bisnis ekspor untuk meningkatkan daya saing produk nasional,”
ujar Budi.
Selain persoalan akses pasar, kemampuan industri dalam menghadirkan produk yang inovatif juga menjadi perhatian. Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong penguatan trend forecasting untuk membantu desainer membaca perkembangan selera konsumen sekaligus mengangkat kekayaan wastra Nusantara ke dalam rancangan yang kompetitif.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan pengembangan industri fesyen membutuhkan dukungan berupa perluasan jejaring bisnis, pemanfaatan teknologi digital, serta perlindungan kekayaan intelektual.
“Karya desainer lokal perlu mendapatkan perlindungan hukum agar memiliki nilai tambah dan daya saing ketika memasuki pasar internasional,”
jelas Riefky.
Upaya memperluas pasar juga terlihat dalam penyelenggaraan IN2MOTIONFEST X JMFW pada 14-18 Oktober 2026. Perhelatan tersebut menghadirkan 200 desainer nasional dan internasional, menampilkan 1.796 koleksi dari lebih dari 249 UMKM, serta mencatat 165 kesepakatan bisnis melalui kegiatan business matching wastra.
Meski demikian, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat industri, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan ekspansi global.
“Kemampuan pelaku usaha menjaga kualitas, memenuhi permintaan dalam skala besar, dan membangun jaringan distribusi internasional tetap menjadi pekerjaan penting agar pengakuan terhadap modest fashion Indonesia dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,”
jelasnya.