Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Lagi Diet tapi Nggak Mau Berhenti Makan Nasi? Beras Shirataki Diklaim Lebih Sehat, Ini Faktanya!

kependekan Beras shirataki menjadi alternatif nasi putih karena rendah kalori dan mengandung serat glukomanan yang berpotensi membantu mengontrol gula darah serta mendukung penurunan berat badan.

Nasi dari beras shirataki.
Nasi dari beras shirataki (Foto: Magnific/jcomp)

Nasi putih menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Namun, bagi orang yang sedang mengatur pola makan atau menurunkan berat badan, konsumsi nasi putih terkadang mulai dibatasi. Salah satu alternatif yang semakin dikenal adalah beras shirataki.

Beras shirataki memiliki kandungan kalori dan karbohidrat yang jauh lebih rendah dibandingkan nasi putih.

Bahan pangan ini juga mengandung glukomanan, yaitu serat larut air yang dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.

Iklan

Tak heran jika shirataki kerap menjadi pilihan dalam menu diet. Namun, apakah beras shirataki memang lebih sehat daripada nasi putih?

Kandungannya

Dilansir dari laman Hello Sehat, 31 Oktober 2022, beras shirataki merupakan produk pangan yang umumnya dibuat dari umbi konjak (Amorphophallus konjac).

Berbeda dari beras biasa, bahan utamanya mengandung glukomanan, sejenis serat pangan larut air.

Glukomanan memiliki kemampuan menyerap air dan membentuk tekstur seperti gel di dalam saluran pencernaan. Kandungan inilah yang membuat shirataki lebih kenyal dari nasi putih.

Beras shirataki juga dikenal memiliki kandungan energi yang rendah, terutama pada produk yang dijual dalam kondisi basah atau siap konsumsi.

Rendah Kalor

Salah satu alasan beras shirataki populer untuk diet adalah kandungan kalorinya yang relatif rendah.

Produk shirataki basah umumnya mengandung banyak air dan serat, sehingga energi yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan nasi putih matang.

Sebagai perbandingan, 100 gram nasi putih matang mengandung sekitar 130 kalori. Sementara itu, kandungan kalori shirataki dapat berbeda-beda tergantung komposisi dan merek produk.

Perbedaan tersebut membuat shirataki menarik bagi orang yang sedang menerapkan defisit kalori.

Dengan mengganti sebagian nasi putih menggunakan shirataki, asupan energi dari makanan pokok dapat dikurangi tanpa harus sepenuhnya menghilangkan kebiasaan makan nasi.

Kandungan Glukomanan

Keunggulan lain shirataki berasal dari kandungan glukomanan. Serat larut air ini dapat memperlambat proses penyerapan karbohidrat sehingga berpotensi membantu mengendalikan kenaikan gula darah setelah makan.

Dalam penelitian Journal of Home Economics of Japan tahun 2013, menemukan bahwa penambahan glukomanan dan mi konjak ke dalam nasi dapat memperlambat kenaikan gula darah serta menurunkan nilai indeks glikemik.

Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak berarti semua produk beras shirataki otomatis dapat mengendalikan diabetes. Pola makan secara keseluruhan tetap berperan penting dalam menjaga kadar gula darah.

Menurunkan Berat Badan?

Kandungan kalori yang rendah membuat shirataki berpotensi membantu seseorang mengurangi asupan energi harian. Selain itu, glukomanan dapat menyerap air dan membentuk gel sehingga berpotensi memberikan sensasi kenyang.

Namun, manfaatnya terhadap penurunan berat badan tidak boleh dilebih-lebihkan.

Sebuah studi ilmiah dari Journal of the American College of Nutrition tahun 2014 menganalisis delapan uji klinis dengan total 301 peserta.

Hasilnya tidak menemukan perbedaan penurunan berat badan yang signifikan antara kelompok yang mengonsumsi glukomanan dan kelompok plasebo.

Alternatif Makanan

Artinya, mengonsumsi shirataki saja tidak cukup untuk menurunkan berat badan. Pengaturan porsi makan, aktivitas fisik, dan keseimbangan nutrisi tetap menjadi faktor penting.

Beras shirataki bukan berarti selalu lebih sehat untuk semua orang. Bahan pangan ini lebih tepat dipandang sebagai alternatif makanan rendah kalori yang dapat mendukung pola makan seimbang.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis, penulis, dan peneliti asal Indonesia lulusan Universitas Esa Unggul.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar