“Agak mustahil untuk tampil tanpa riasan, percayalah, aku pernah mengalaminya (dan jerawatku sangat parah karena kurang tidur, hormon + stres. Bahkan sampai sekarang aku masih berjuang dengan masalah jerawatku),”
tulis Sara dengan bahasa Inggris di akun Threadsnya, 6 November 2026.
Fenomena ini kemudian membuka pembahasan mengenai masalah kulit yang sebenarnya cukup umum dialami banyak orang. Lantas, apakah breakout atau kemunculan jerawat dalam jumlah banyak secara tiba-tiba termasuk kondisi wajar?
Bisa Terjadi pada Siapa Saja
Breakout merupakan istilah umum untuk menggambarkan kondisi ketika jerawat muncul lebih banyak dari biasanya. Dalam dunia medis, jerawat dikenal sebagai acne vulgaris, yaitu gangguan peradangan pada folikel rambut dan kelenjar minyak.
Penelitian dari Medical Science Monitor tahun 2024, jerawat bisa dipengaruhi berbagai faktor mulai dari genetik, kebiasaan perawatan kulit, pola tidur, pola makan, hingga stres psikologis.
Artinya, masalah jerawat tak selalu berkaitan dengan kebersihan wajah atau kesalahan menggunakan skincare. Seseorang dengan rutinitas perawatan kulit yang baik sekalipun tetap bisa mengalami breakout.
Muncul dalam Jumlah Banyak
Ada beberapa faktor yang dapat memicu atau memperburuk kemunculan jerawat, di antaranya:
- Perubahan hormon. Aktivitas hormon androgen dapat meningkatkan produksi sebum sehingga pori-pori lebih mudah tersumbat.
- Stres berlebihan. Stres dapat memperburuk peradangan dan kondisi jerawat yang sudah ada.
- Kurang tidur. Pola tidur yang tak teratur dapat memengaruhi proses biologis tubuh yang berkaitan dengan kesehatan kulit.
- Penggunaan kosmetik tertentu. Produk yang bersifat komedogenik dapat menyumbat pori-pori dan memicu jerawat.
- Faktor genetik. Riwayat keluarga juga dapat memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami jerawat.
Penjelasan mengenai faktor-faktor tersebut dibahas dalam jurnal New Insights Into Systemic Drivers of Inflammation and Their Contributions to the Pathophysiology of Acne yang diterbitkan dalam Journal of Drugs in Dermatology pada Februari 2024.
Berhenti Menggunakan Makeup
Anggapan bahwa seseorang harus berhenti menggunakan makeup ketika berjerawat tidak sepenuhnya benar.
American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa orang dengan kulit berjerawat tetap boleh menggunakan kosmetik. Namun, pemilihan produk perlu diperhatikan, terutama dengan memilih label non-comedogenic, oil-free, atau tidak menyumbat pori-pori.
Penggunaan makeup juga perlu diikuti kebiasaan membersihkan wajah sebelum tidur. Kuas dan spons makeup sebaiknya dibersihkan secara rutin agar tidak menjadi tempat penumpukan minyak, sel kulit mati, dan kotoran.
Dengan demikian, masalahnya bukan semata-mata penggunaan makeup, melainkan jenis produk dan kebiasaan pemakaiannya.
Cara Merawat Kulit
Ketika jerawat muncul dalam jumlah banyak, penggunaan berbagai produk perawatan sekaligus justru berisiko memperburuk iritasi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kondisi kulit antara lain:
- Membersihkan wajah dua kali sehari menggunakan sabun pembersih yang lembut.
- Menggunakan pelembap yang sesuai dengan jenis kulit.
- Memilih sunscreen dan kosmetik berlabel nonkomedogenik.
- Menghindari kebiasaan memencet atau mengorek jerawat.
- Tidak melakukan eksfoliasi secara berlebihan.
- Memperhatikan pola tidur dan mengelola stres.
Bukan Penghalang
Jerawat bukan sesuatu yang perlu membuat seseorang merasa malu atau kehilangan kepercayaan diri.
Seperti yang terlihat dari perbincangan mengenai Naykilla, kondisi kulit setiap orang bisa berubah dan tidak selalu dapat dikendalikan hanya dengan penggunaan skincare. Hal terpenting adalah memahami penyebabnya dan memberikan penanganan yang tepat.